"The New Sick Men"
Oleh: Ummu Muhammad
(Member Amk & Praktisi Pendidik)
"Kerusuhan di Washington sebagai insiden yang memalukan". (Boris Jhonson - Perdana Menteri Inggris)
Baru-baru ini, trending topick jagat maya digemparkan oleh berita mantan Presiden AS yang kecewa dikalahkan oleh saingannya Joe Biden. Berbagai macam gambar kerusuhan yang dilakukan pendukungnya tersebar luas di dunia maya. Sehingga banyak komentar dari nitizen dan pemimpin dunia mengenai sikap dan sistem yang berlaku di negaranya. Ada yang mencela ada pula yang mengkritik.
Disebutkan dalam Berita Satu (kamis/7/01/2021) bahwa sang Mantan tidak terima dengan kekalahan dirinya dan menganggap bahwa proses pemilu yang diselenggarakan oleh negaranya terdapat kecurangan yang mengakibatkan dirinya gagal menjadi pemimpin negara untuk kedua kalinya. Sehingga kerusuhan yang terjadi di gedung Capitol Washington DC (6/1/2021) dianggap sebagai bentuk protes atas ketidak-adilan dirinya.
Ironis, negara yang menjadi kiblat demokrasi berbagai negara, kini tak malu-malu lagi menampakkan kebusukannya. Pemilu yang diklaim sebagai fokus demokrasi tak mampu membuat dirinya puas akan hasilnya. Pemilu yang dianggap mencerminkan mayoritas suara terbanyak pun tak diakuinya. Padahal merekalah yang memperdagangkan demokrasi itu pada negara-negara lain.
Kini negara tersebut sedang mengalami kemunduran dan kerusakan akut di berbagai aspek kehidupannya. Sehingga julukan "The new sick men" adalah julukan yang cocok untuknya saat ini sebagaimana dulu ia disematkan pada kekhilafahan ustmani. Adakah solusi bagi negara sakit tersebut? Adakah negara yang mampu mengambil pelajaran dari negara tersebut? Atau hanya sekedar komentar yang tak berarti yang membuat mereka akan mengulangi kesalahan yang sama?
Kekecewaan yang menimpa Mantan Presiden AS bukan satu-satunya yang terjadi di dunia, tapi beberapa negara yang menerapkan sistem yang sama pun pasti mengalaminya.
Negeri tercinta kita contohnya, kejadian semacam itu terus berulang, dan rakyat masih terbuai dengan janji manis perubahan lebih baik, tapi liciknya, para kontestan politik berusaha mencari cara untuk menghindari kerusuhan atau protes lawan atas ketidakjujuran mereka, mereka pun membeli seluruh perangkat penunjang opini kemenangannya dengan ancaman dan kesenangan, serta membungkam para oposisi dengan jabatan yang didambakan agar langkahnya terhenti. Akhirnya,mereka semua yang terlibat tanpa rasa malu dan bersalah menerima semua kompromi.
Kebobrokan yang nampak di hadapan ini adalah satu diantara beberapa kebobrokan yang terekspose, dan ini tidak akan pernah hilang selama sistem yang diterapkan sama dengan tuannya. Bagaimana kita memutusnya? Apakah kita tetap mempertahankan kendaraan yang sudah rusak nan reot? Padahal kita tahu sebagus apapun dan seahli apapun pengemudinya, ia tak akan bisa membawa penumpangnya ke tempat tujuan, yang ada hanya kecelakaan yang tak terelakkan. Sebagaimana yang terjadi pada kasus pesawat Sriwijaya Air.
Begitu juga dengan sistem, sistem yang rusak hanya melahirkan kebijakan-kebijakan yang rusak, dan orang-orang yang bengkok, yang dapat mengundang murka sang Maha Kuasa. Sungguh Maha Benar Allah atas apa yang difirmankan-Nya.
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha:124)
Sehingga solusi yang tepat untuk menggantikan sistem rusak ini adalah Islam karena ia lahir dari pencipta manusia, yang mengetahui segala yang ghaib dan nyata bagi makhluknya. Sistem yang dapat memanusiakan manusia, menjadikan setiap aktivitasnya adalah ibadah yang berbuah pahala bagi penganutnya, dan keadilan bagi warga di dalamnya.
Bukan dengan tetap mempertahankan sistem tersebut dengan mengganti-ganti penguasa, dan mengubah-ubah kebijakan negara, atau beralih kepada sistem buatan manusia yang lainnya seperti sosialis-komunisme. Karena sistem tersebut terbukti secara nyata tidak bisa diterima akal dan menghilangkan fitrah manusia. Berapapun pemilu diselenggarakan oleh negara pada sistem ini, keadilan hanyalah mimpi yang tak mungkin diwujudkan.
Karena itu, pemilu hanya wasilah umat dalam memilih pemimpin yang bisa mengurusi kehidupannya. Baik dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan dan lain-lain. Sehingga aktivitas pemilu tidak lagi menjadi rumit yang menghabiskan jutaan dollar, tenaga dan waktu yang mubadzir. Serta penguasa tidak lagi memandang bahwa jabatannya sebagai pemimpin menjadi alat untuk menumpuk harta dari keringat rakyat, tapi ia merupakan amanah yang akan dihisab di hadapan Penguasa Jagat Raya.
Sehingga sistem yang bisa menggabungkan antara materi dan ruh ini mampu mencegah aneka kecurangan dan penyelewengan wewenang, karena setiap aktivitasnya akan senantiasa merasa diawasi, dicatat dan dipertanggungjawabkan di hari perhitungan, yang akhirnya perilaku yang muncul darinya hanyalah kebaikan dan keberkahan bagi alam semesta.
Wa Allahu A'lamu bishawab.

