Opini: Islam Mencetak Manusia Berilmu dan Berjiwa Ksatria

Opini

Islam Mencetak Manusia Berilmu dan Berjiwa Ksatria


"Tidak ada yang baru di dunia ini kecuali sejarah yang tidak kamu ketahui." - Harry S Truman

Sejarah adalah kisah perjalanan panjang sebuah kehidupan dari satu generasi ke genarasi yang lain yang diceritakan sebagai hikmah dan pelajaran bagi generasi setelahnya.

Ia merupakan sunnatullah bagi kehidupan makhluk di muka bumi ini. Meskipun zaman berganti namun masalah manusia tetap sama yang dihadapi, hanya sarana yang melengkapi. Itulah fitrah dari Ilahi agar manusia senantiasa memuhasabah diri dan hidup tidak lagi merugi.

Umat Islam diajarkan agar senantiasa belajar dari sejarah kehidupan mulia Rasulullah Saw, sebagai petunjuk keselamatan manusia di dunia dan akhirat, menapakinya merupakan ibadah dan berpahala, serta menjadi petunjuk manusia yang ingin hidup bermartabat lagi mulia.

Kisah perjalanan kehidupan umat Islam terdahulu di berbagai wilayah pun telah tercatat kegemilangan peradabannya. Namun ada juga yang menyembunyikan bahkan memutarbalikkan faktanya guna untuk suatu tujuan tertentu yaitu mengubah opini generasi muda Islam tentang masa lalu perjuangan bangsa dan negaranya.

Misalnya saja kisah tokoh ulama negeri ini yaitu wali sanga sebagai tokoh utusan khalifah digambarkan dengan sosok tokoh Islam yang tidak mengenal syariat Islam, beribadah dan bertingkah laku layaknya Brahmana Hindu. Hasilnya, ada sebagian dari generasi ini menganggap tidak penting mengingat dan mengikuti perjuangannya bahkan sampai mencelanya. 

Kurikulum Sejarah yang dipajari di sekolah-sekolah pun mulai disesuaikan oleh kehendak orang yang berkepentingan. Akhirnya, out put yang dihasilkan pun melahirkan generasi yang inferior dan apatis terhadap ajaran agamanya sendiri, mereka lebih suka bersembunyi dibalik kata moderasi agama.

Maka di sinilah, penulis ingin membuka mata kembali, berfikir dengan akal yang sehat, dan meluruskan pemahaman yang terdistorsi kepentingan, agar umat ini bangga dengan sejarahnya dan optimis mengubah peradaban zaman dengan Islam.

Salah satunya adalah bagaimana Islam mampu melahirkan orang-orang hebat seperti ulama dan santri yang dapat membangun masyarakat dengan peradaban mulia, karena syariat Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam sehingga kemerdekaan adalah berkah dari rahmat Allah Swt, karena keridhaannya terhadap hambanya. Tanpa Islam dunia akan kembali dalam kegelapan dan kerusakan.

Islam Melahirkan Jiwa Manusia  yang Bersih dan Kuat


Sejarah orang-orang hebat masa lalu, tidak lepas dari mafhum yang dibawanya, karena sejatinya manusia bertindak sesuai dengan isi kepalanya. Begitu juga dengan kisah pahlawan Islam yang berkembang di Indonesia, mereka adalah para ulama dan santri, Kehebatannya dalam mengusir penjajah di bumi pertiwi ini semata-mata karena ajaran Islam itu sendiri.

Islam bukan sekedar agama yang mengajarkan aspek spritual semata, tapi ia juga mengajarkan dan mengatur berbagai hal masalah kehidupan dari urusan rumah tangga sampai rumah tangga negara, semuanya telah dicontohkan dalam praktik kehidupan mulia Rasulullah Saw. 

Kebenaran ajaranya menjadi sebuah fitrah yang tidak bisa dihindari oleh akal, sehingga ia mampu membakar jiwa pemeluknya. Perintah dakwah dalam ajaran Islam bukan lagi sebuah pemaksaan, tapi telah menjadi  kebutuhan jiwa dalam menyalurkan kobaran panasnya.

Islam sampai ke Indonesia dari kota asalnya Makkah sekitar abad ke VII M yang dibawa oleh para pedagang arab yang memiliki tradisi mengembara ke berbagai negara, mereka berinteraksi dengan penduduk sekitar  dengan menggunakan bahasa melayu pasar, sampai akhirnya menjadi bahasa persatuan Indonesia.

Islam tidak mengenal kasta baik ras, suku, kulit dan bahasa. Ia pun tidak mengutamakan salah satu jenis kelamin, laki-laki maupun perempuan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, pun kaya dan miskin mendapatkan perhatian yang setara di hadapan negara. Berdasarkan karakter ini maka wajar bagi penduduk Indonesia bisa menerima dan memeluk Islam serta menjadi agama terbesar di negeri ini.

Islam adalah agama yang dibawa oleh manusia mulia, kehadirannya didamba oleh semesta, ajarannya terjaga , kebenarannya diterima oleh akal dan jiwa, serta nash-nash yang termaktub dalam kitab sucinya adalah penguat agar kebenarannya itu diyakini dan layak untuk diikuti dan direalisasi.

Akidah Islam mengajarkan manusia untuk merdeka dari penghambaan selain Pencipta jagat raya, agar hidupnya tidak terikat pada makhluk yang terbatas dan fana, serta Mempertahankannya adalah kewajiban yang harus ada didalam dada.

Hidup seorang mukmin hanya untuk satu penghambaan, yaitu Rabb Pengatur alam semesta, menduakanNya adalah dosa. Tujuan dari seluruh amalnya hanya untuk mengharap ridhaNya bukan pada manusia apalagi penjajah. Sehingga nilai ikhlas itu penting berada di setiap amal seorang hamba.

Namun ikhlas saja tidak cukup, jika tak ada ilmu yang menghiasi pribadinya. Maka Allah memberikan keutamaan dan kewajiban pada seorang hamba yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu, apalagi ilmu agama karena ia mengajarkan bagaimana cara beramal yang benar sesuai yang dikehendaki Rabb-nya.

"niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (Al Mujadala: 11)

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”. (HR. Ibnu Majah)

Seorang hamba yang merasa hidupnya selalu diawasi maka akan melahirkan sosok yang memiliki jiwa yang bersih dan amal yg ikhlas karena ia sadar amalnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Ilahi, sehingga seorang santri yang memiliki keilmuan luas, adab yang luhur selain ia mendapatkan posisi di sisi Allah, Ia pun dicintai makhluk di bumi.

"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama" (Fathir: 28)

Kecintaan terhadap ilmu di dunia Islam sudah menjadi hal yang lumrah, mereka tak segan-segan meninggalkan rumah dan tanah kelahirannya hanya untuk mendatangi tempat tinggal seorang ulama. 

Para ulama Nusantara pun menjalani kehidupan yang tidak berbeda dengan ulama-ulama pendahulunya. Masa kecilnya digunakan untuk mulazamah dengan para guru, mereka rela meninggalkan rumahnya untuk suatu ilmu yang dicintainya.

Kebiasaan merantau pun menjadi suatu hal yang wajar, rihlah dari satu daerah ke daerah yang lain bahkan rela melintasi negara, yaitu Makah menjadi suatu tempat yang harus disinggahi seorang penuntut ilmu sebelum negara-negara yang lain.

Sebagai contoh, kisah pejuang Islam Hasyim Asy'ari yang merupakan santri cerdas dan berprestasi dari seorang ulama Kiai Sholeh Darat, beliau disarankan oleh kiayinya untuk meninggalkan Nusantara menuju kota kelahiran Rasullah Saw. 

Selama belajar di Makkah, beliau terpengaruh pikiran dan perasaannya tentang kondisi kaum muslimin di Tanah Air yang menderita diperbudak penjajah. Akhirnya dengan beberapa kawan pelajar, mereka berjanji dan bersumpah atas nama Allah di depan Multazam untuk melakukan perjuangan di jalan-Nya, meninggikan kalimah-Nya, dan mempersatukan umat Islam dengan ilmu dan kesadaran, serta memperdalam agama untuk meraih ridha-Nya tanpa mengharapkan kedudukan dan harta.

Setelah kembali dari Makah, kiai hasyim Asy'ari membangun pesantren di wilayah terpencil di Jombang yang terkenal masih melakukan praktik kemaksiatan. Di sana beliau mengajarkan ilmu agama untuk memperkaya 'aqliyah, adab untuk keindahan nafsiyah serta latihan fisik ketentaraan dengan memanggul senjata untuk kekuatan jasmaninya.

Mereka dilatih untuk merebut kemerdekaan dengan barisan pemuda yang disebut Hizbullah dan Laskar Mujahidin. Selain itu Kontribusi lain yang dilakukan kiai Hasyim Asy'ari adalah fatwanya yang dikenal dengan "Resolusi Jihad" yang dikeluarkan pada bulan oktober 1945.

Dari pesantren inilah muncul ulama dan santri Nusantara yang berfikir kritis terhadap kondisi negerinya. Mereka bukan sekadar sadar akan ruhiyahnya  tapi juga kesadaran politiknya terbangkitkan. Ulama juga memiliki tempat istimewa di hati rakyat Indonesia sampai Ir. Soekarno meminta restu kepada para ulama sebelum membacakan teks proklamasi.  

Inilah Keimanan yang benar yang bersemayam dalam dada kaum muslimin. Keimanan kepada yang ghaib mampu membuat  seorang mukmin melangkah pada suatu aktivitas yang mungkin akalpun tak mampu mencerna. Hingga penjajah pun dengan sadar mengakui bahwa yang tidak dapat ditundukkan olehnya hanyalah seorang muslim yang taat, tanpa politik adu domba mereka kewalahan mengahadapi para mujahid Nusantara.

Banyak kisah gerakan perjuangan ulama dan santri yang muncul di negeri ini, yang gagah berani menolak penjajahan dan perbudakan, yang akan dituliskan nanti sebagai bukti bahwa ulama dan santri jelas memiliki peranan besar dalam membangun negeri ini, hingga sampai puncaknya negeri ini mampu memproklamirkan diri terbebas dari penjajahan, yaitu 17 agustus 1945.






Daftar pustaka
1. Suryanegara, Ahmad Mansur. 2014. Api Sejarah 1. Bandung: Tria Pratama.

2. Masyhuri, KH. A. Aziz. 2017. 99 Kiai Kharismatik Indonesia. Bogor: Keira Publishing.

3. Abdurrahman, KH Hafidz. 2018. Diskursus Islam Politik dan Spritual. Bogor: Al Azhar Press
LihatTutupKomentar