Childfree bikin Ngeri
“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat”
[Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]
Kembali jagat maya di hebohkan oleh ulah pesohor negeri ini, komentar-komentarnya di layar kaca ataupun di media sosial menjadi sorotan yang luar biasa, banyak pengikutnya baik dari kalangan yang berpendidikan tinggi ataupun remaja yang masih bau kencur.
Ya, isu childfree atau isu tentang ketidak-inginan memeliki anak dari rahimnya sendiri. kini kembali santer terdengar, dimana kemunculannya mulai akhir-akhir abad 20 ini.
Berdasarkan komentar mereka di media sosial, diantara Alasannya adalah.
Tidak mau menambah jumlah populasi penduduk bumi yang menurutnya sudah overpopulasi.
Lebih baik mengadopsi anak lain yang masih membutuhkan perhatian.
Tidak mau menghadirkan anak di dunia kerena merasa khawatir tidak bisa menjadi ibu yang baik dan malah memberikan efek negatif kepadanya.
Menolak tua atau takut kehilangan kecantikan yang sudah diusahakan, karena gambaran orang melahirkan dan memiliki anak baginya negatif.
Takut miskin dan karir terhambat karena kehadiran anak.
Masih banyak lagi alasan-alasan yang mereka buat sebagai pembenaran dari logika dangkal dan sesatnya. Usahanya membangun image sebagai sosok yang perpendidikan dan smart mampu membuat mata publik terperanjat dan sebagian dari mereka membenarkan logikanya yang mudah difahami.
Itulah fakta yang nampak jelas di depan mata. Adakah kita menyadari tersebab apa dia berkata demikian? Image sempurna yang di tonjolkan di media sejatinya menyimpan kekurangan yang tersembunyi. Alasan-alasan yang dilontarkan hanyalah kamuflase ketidak-mampuannya menjadi seorang ibu, ketidak-matangan dalam perkembangan usianya, dan yang pasti pengetahuanya tidak sampai pada hakikat kebenaran yang hakiki.
Image smart, dan argumentasi yang terlihat bijak, hanyalah menunjukkan kelemahannya sebagai manusia. Karena sejatinya logikanya dapat dipatahkan dengan logika dan agama. Dia bisa saja mencoba menghentikan penuaan tapi tidak bisa memundurkan ajalnya. Maka seharusnya orang smart itu ia bisa menyiapkan bekal yang banyak untuk kematiannya.
Anggapannya tentang bumi ini sudah overpopulasi adalah anggapan sekte agama lain yang menganggap bumi ini idealnya hanya dihuni oleh lima ratus ribu orang saja. Jika kita telaah lebih dalam, milik siapakah bumi ini? Adakah penduduk di muka bumi ini berebut oksigen atau mati kelaparan kehabisan sumber daya alam?
Tidakkah dia berfikir adanya kelahiran dan dan kematian adalah sebuah keseimbangan yang Rabbnya lebih mengetahui akan keterbatasan makhluknya, dan tidakkah dia menyadari kasus kelaparan yang terjadi di muka bumi ini adalah fakta yang diciptakan oleh ide barat yang menentang ajaran Islam dan memaksakan logikanya untuk membenarkan pemahamannya?
Selain itu perhatian terhadap orang-orang yang membutuhkan harusnya menjadi tanggung jawab negara, karena ia yang mewakili makhluk Tuhan atas sumber daya yang dititipkannya ini. Harusnya kita bertanya kemana negara? Bagaimana dengan penerapan Undang-Undangnya? Sudah efektifkah atau belum? Bukan malah menciptakan ide baru yang konyol dari kontribusimu yang terbatas.
Alasan berikutnya, kekhawatiran tidak bisa menjadi ibu yang baik, adalah bukti belum matangnya perkembangan berfikirnya ia tak memiliki visi dalam hidupnya, karakter smart kembali teruntuhkan, karena wanita sejatinya memiliki karakter khas yang merupakan fitrah dari sang Pencipta, potensinya yang mampu melakukan banyak hal, sejatinya itu adalah bekal kepercayaan dirinya untuk melakukan aktivitas sesuai dengan fitrahnya.
Sedangkan aspek negatif yang diterima anak baik di rumah atau pun di luar itupun merupakan pilihan orang tua atas apa yang hendak mereka berikan kepada buah hatinya, serta lingkungan semacam apa yang ingin orang tua kenalkan kepadanya. Jadi, baik buruknya anak adalah lukisan harapan orang tua. Bukankah begitu?
“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanya yang akan membuat dia yahudi, nasrani, dan majusi” (H.R. Muslim).
Wahai para wanita yang ingin terlihat cantik, dengan fisik dan pengetahuan. Sadarkah itu hanya sebuah titipan, oke, kalian ingin merawatnya kan, tapi bukan untuk mengubahnya. Karena kau hanya cukup menerima atas bagian rejeki dari Tuhanmu.
Katamu mengandung, melahirkan dan menyusui akan menurunkan tingkat kecantikanmu, ya ya, karena kamu tahu dari pengetahuan kesehatanmu. Tapi tahukah tiga kondisi tersebut adalah kemuliaanmu sebagai wanita.
Saat satu fitrah itu kamu tolak, maka potensi untuk melakukan sesuatu yang di luar fitrah terkait ini pun menjadi besar. Seperti kumpul kebo, operasi plastik, lesbian, masturbasi dan lain-lain. Bukankah itu malah menciptakan kerusakan berikutnya yang lebih bobrok.
Fisik ini hanya titipan dan kita dipastikan akan kembali menghadap Rabb Pencipta. Rupa yang kita banggakan di dunia tidak memberikan jaminan akan kembali seperti yang diimpikan, bahkan bisa jadi hanya sebagai bahan bakar api neraka. Na'udzu billahi min dzalik.
Alasan yang terakhir adalah alasan yang mengada-ada. Bagaimana bisa berfikir, kehadiran anak menjadi penghalang karir dan rejeki berkurang? Itu hanya alasan yang aneh untuk menutupi sifat aslinya yang tidak memiliki karakter bertanggung jawab.
Apakah dirimu dilahirkan ke dunia ini langsung membawa harta benda dunia? Kecuali Rabbmu yang telah memenuhi segala kebutuhanmu lewat perantara orang tua.
{ وَلَا تَقۡتُلُوۤا۟ أَوۡلَـٰدَكُمۡ خَشۡیَةَ إِمۡلَـٰقࣲۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُهُمۡ وَإِیَّاكُمۡۚ إِنَّ قَتۡلَهُمۡ كَانَ خِطۡـࣰٔا كَبِیرࣰا }
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.
[Surat Al-Isra': 31]
Kata membunuh bukan hanya dengan cara menghilangkan nyawa, tapi ide rusakmu yang kau tularkan telah membunuh generasi ummat ini. Karena Manusia sejatinya melakukan sesuai apa yang ia fahami. Maka berhati-hatilah dengan dosa jariyah.
Syariat Islam itu datang membawa kemuliaan bagi penganutnya, namun hanya sebagian kecil yang memahaminya. Allah telah memuliakan wanita dengan berbagai nash-nashnya seperti wanita mulia dengan keimanannya, surga berada di bawah telapak kakinya, dan Rasulullah bangga dengan banyaknya ummat yang dilahirkan oleh ibu-ibu mulia.
Generasi mulia hanya akan lahir dari rahim ibu-ibu mulia yang tangguh dan memiliki keimanan yang kokoh, bukan pada ibu yang abai apalagi tidak menghendakinya kelahiran anak ke dunia.
Perbuatan manusia memang diberikan pilihan oleh Pencipta, tapi setiap pilihan akan ada konsekuensi baik jangka pendek atau jangka panjang, serta ada pahala dan dosa. Sedangkan pilihanmu untuk tidak memiliki anak atau childfree sudahkah kamu pertimbangkan konsekuensi di dunia dan akhirat?
Wa allahu a'lamu bi shawab
Oleh: Umm_Chaera

