Wujud Cinta sang Pencipta
_Tangan halus dan suci_
_T'lah mengangkat tubuh ini_
_Jiwa-raga dan seluruh hidup_
_Rela dia berikan_
_Kata mereka, diriku s'lalu dimanja_
_Kata mereka, diriku s'lalu ditimang_
_Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu_
_'Kan selalu ada di dalam hatiku_
-Potret-
Sampai saat ini, sepenggal lagu lawas itu masih enak didengar dan dinikmati oleh masyarakat. Tiap bait liriknya pun mengandung makna yang dalam, hingga mampu menitikkan air mata penikmatnya.
Pertama kali manusia diciptakan ke dunia, dzat yang lebih dulu dikenalnya adalah Penciptanya. Dia menitipkannya di rahim sang ibu agar ia bisa menjadi wasilah dari setiap cinta dan rejekinya. Kemudian manusia dilahirkan dengan penuh cinta serta kasih sayang penduduk bumi, juga Penciptanya.
Dengan perantara ibu ia diberikan rejeki pakaian, makanan, dan berbagai kebutuhan. Ia pun mendapatkan pendidikan bahasa pertama yaitu belaian, kasih sayang dan cinta sebelum kosa kata. Hingga ia mampu mengenal Rabb Pencipta yang berhak disembah. Ia adalah guru pertama bagi umat manusia.
Selain itu, perumpamaan Ibu laksana tanda cinta pencipta karena sifat-sifatnya, Ketulusan hatinya, kasih sayangnya dan juga kelembutan lisannya, semua itu sejatinya milik Rabbnya yang dititipkan kepada hatinya.
Ibu juga adalah orang yang menjadikan manusia ingat pada tempat asalnya. Meskipun ia mengembara ke penjuru dunia ia pasti akan kembali ke tanah kelahirannya. Bernostalgia menikmati kenyamanan hidup yang pernah ia rasakan.
Begitulah fitrah yang Allah berikan padanya, dengannya manusia mampu bertumbuh dan berkembang dengan baik. Cintanya membuat jiwanya terjaga dari keburukan, ketulusannya membuat terpenuhinya kebutuhan, dan kelembutan lisannya mampu mengubah manusia di masa depan.
Peran ibu begitu besar dalam keberhasilan mendidik generasi, karenanya Islam menempatkatnya sebagai orang yang mulia, dengan keshalihannya ia mampu menjadikan negeri tempat tinggalnya damai sentosa, dan dari rahimnyalah lahir generasi- generasi penuh berkah, yang keberkahannya tersebar ke penjuru alam dunia.
Sebagaimana ungkapan orang arab mengatakan
إذا صلحت المرأة صلح المجتمع وإذا فسدت فسد المجتمع كله
_"Apabila seorang wanita itu baik, maka baiklah masyarakat. Dan jika wanita itu rusak, maka rusaklah masyarakat secara keseluruhan"_
Dari ungkapan tersebut, sejalan dengan hadist-hadist lain yang semisal maknanya, yaitu Keshalihan seorang wanita menjadikannya istri, ibu dan penjaga masyarakat yang baik. Maka, sepantasnya wanita shalihahlah yang mampu mengubah peradaban dunia ini, karena ia senantiasa menjaga hak-hak Rabbnya, taat pada aturan syariat, serta mampu membawa keselamatan manusia di dunia hingga akhirat.
Meskipun kita sadari, cinta dan kasih sayang ibu mampu dimiliki semua umat manusia, tetapi keberkahan generasi hanya bisa diberikan dari rahim ibu dengan ketakwaan pada rabb semesta.
Rasulullah Saw menganjurkan umatnya untuk menikahi perempuan karena agamanya, dan juga yang mampu melahirkan banyak keturunan.
Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, _“Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu paling utama yang harus jadi perhatian adalah masalah agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat."_ (HR. Bukhari Muslim).
_“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat”_ [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]
Selain itu, Rasulullah Saw juga menggambarkan bahwa wanita mampu berpotensi menyengsarakan ummat mananusia di dunia ini.
_“Ada tiga hal yang membahagiakan dan menyengsarakan manusia. Yang membahagiakan manusia adalah: (1) istri salehah, (2) tempat tinggal yang baik, (3) kendaraan yang menyenangkan. Yang menyengsarakan manusia adalah: (1) istri yang tidak saleh, (2) tempat tinggal yang jelek, (3) kendaraan yang tidak menyenangkan.”_ (HR. Ahmad)
Banyak dari kalangan wanita yang tidak menyadari potensinya, ia hanya mengingat kebahagiaan dirinya. Sehingga musuh Islam yang sudah berabad-abad lamanya mengkaji ajarannya mengambil kesempatan itu untuk menjadikan potensi mulianya mandul. Di bawah legalitas negara, wanita disodorkan faham-faham yang asing bagi fitrahnya seperti kesetaraan gender dan kebebasan, _child free_, serta teknologi yang melalaikan kodratnya.
Disamping itu, Gencarnya media menojolkan kesempurnaan duniawi, menjadikan para wanita lebih bangga dengan karir, kreativitas, penampilan, kekayaan, dan lain-lain yang bersifat materi. Sedangkan wanita yang sibuk dengan agama dan Rabbnya disembunyikan, dan bahkan disudutkan untuk menjatuhkan mental, agar mereka tetap berjalan pada langkah-langkahnya, menghancurkan generasi, agar kejayaan islam tak kembali.
Imbasnya, Ketulusan cinta yang dimiliki, kini hanya sebatas materi. Makna cinta menjadi tak berarti, jika tidak diiringi dengan kenikmatan jasadi. Mereka sibuk keluar mencari secuil rejeki dengan alasan demi masa depan sang buah hati. Akhirnya pendidikan diserahakan kepada lembaga-lembaga pendidikan di bawah kurikulum negara kekuasaan, yang tidak mengadopsi sedikitpun pendidikan Islam.
Masalah sosial pun kini tampak begitu jelas. Kasus demi kasus dikalangan remaja sangat sering dijumpai. Seperti seks bebas, narkoba, _bullying_, suka sesama jenis, dan berbagai macam kerusakan yang muncul, akibat salah satu peran penting di dalam keluarga terabaikan.
Jiwa-jiwa generasi sekarang begitu rapuh, tidak sanggup menanggung konsekuensi pilihannya. Mereka lebih suka dengan kehidupan yang instan dan minim resiko, cita-cita mereka tidak jauh dari apa yang mereka saksikan di media sosial seperti, artis, youtuber, selebgram dan lain-lain.
Begitulah gambaran generasi saat ini, duhai ibu. Dunia membutuhkan peranmu, di tanganmu peradaban mulia terwujud. Sejarah telah mencatatmu sebagai sosok yang mampu melahirkan para pemimpin, ulama bahkan mujahid-mujahid luar biasa yang mampu membawa nama harum peranmu dan agamamu.
Maka benarlah apa yang Allah firmankan, agar kita senantiasa bersyukur kepada-Nya, karena Dia telah memberikan cinta kepada ibu untuk anaknya dan untuk keberkahan jagat raya.
وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰلِدَیۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنࣲ وَفِصَـٰلُهُۥ فِی عَامَیۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِی وَلِوَ ٰلِدَیۡكَ إِلَیَّ ٱلۡمَصِیرُ
_Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu._ [ Luqman: 14]
Wa Allahu 'alamu bi shawab
Oleh: Umm_Chaera

