Kembali menyambung pasal yang terdapat pada salah satu kitab ibnul Qayyim al Jauziyah tentang hukuman bagi mereka yang suka melakukan dosa dan kemaksiatan.
Salah satu sanksi dari sanksi-sanksi yang Allah berikan kepada hambanya yang berbuat maksiat adalah dengan membutakan mata hatinya, jika tidak dengan itu maka mata hatinya akan melemah dan itu pasti, jika hati telah buta dan lemah maka ia tidak lagi mengetahui dan memahami petunjuk, dan tidak lagi mampu untuk melaksanakan untuk dirinya ataupun orang lain, dikarenakan melemahnya kekuatan bashirahnya.
Kesempurnaan manusia berpusat pada dua prinsip:
mengenal kebenaran dari kebatilan,
mengutamakan kebenaran daripada kebatilan.
Perbedaan tingkat manusia di sisi Allah di dunia dan akhirat adalah sejauh mana perbedaan mereka dalam kedua prinsip ini, dengan keduanya Allah memuji para nabi-Nya dengannya dalam firman-Nya:
وَاذْكُرْ عِبَدَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أَوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ ﴾
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub, yang memiliki kekuatan dan penglihatan" (QS. Shaad: 45).
Maksud tangan dalam ayat tersebut adalah kekuatan dalam melaksanakan kebenaran, sedangkan penglihatan adalah penglihatan dalam agama. Maka mereka dijelaskan dengan kesempurnaan pemahaman akan kebenaran dan kesempurnaan pelaksanaannya.
Pembagian Manusia Menurut Bashirahnya
Manusia dibagi dalam keadaan ini menjadi empat kelompok:
Mereka adalah kelompok yang paling mulia dari segala makhluk dan yang paling terhormat di sisi Allah.
Kelompok kedua: sebaliknya, tidak memiliki penglihatan dalam agama, dan tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan kebenaran. Mereka ini adalah makhluk yang sebagian besar dilihat oleh mata sebagai sesuatu yang menjijikkan, memiliki jiwa-jiwa yang panas, hati-hati yang sakit, mereka membuat tempat tinggal menjadi sempit, menaikkan harga-harga, tidak ada manfaat berteman dengan mereka hanya membawa malu dan cela saat berada di sekitar mereka!
Kelompok ketiga: mereka yang memiliki penglihatan terhadap kebenaran dan pengetahuan tentangnya, tetapi mereka lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakannya atau mengajak kepada itu. Ini adalah kondisi orang beriman yang lemah, orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mereka.
Kelompok keempat: Mereka yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, tetapi lemah dalam penglihatan agama, hampir tidak bisa membedakan antara wali Allah dan wali setan, bahkan menganggap setiap yang hitam adalah buah kurma, setiap yang putih sebagai lemak, bahkan menganggap tumor sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.
Posisi yang Cocok Bagi Pemilik Hati
Tidak ada di antara mereka yang cocok untuk ditempatkan dalam kepemimpinan agama dan dunia, hanya kelompok pertama yang paling cocok menempati kedudukan ini. Allah Ta'ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
"Dan Kami jadikan di antara mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka sabar dan mereka yakin akan tanda-tanda Kami." (Surah As-Sajdah: 24).
Allah Swt memberitahu bahwa dengan kesabaran dan keyakinan mereka ia akan memperoleh kepemimpinan dalam agama dan dunia.
Allah Swt telah mengecualikan mereka dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu - yang merupakan masa usaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung - bahwa siapa pun yang tidak termasuk dalam golongan mereka, maka dia termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran." (Surah Al-'Asr: 1-3).
Mereka tidak cukup hanya dengan pengetahuan tentang kebenaran dan kesabaran, tetapi mereka juga saling menasihati untuk itu, membimbing dan mendorong satu sama lain ke arahnya.
Jika orang yang tidak termasuk dalam golongan yang disebutkan itu adalah orang yang merugi, maka sudah jelas bahwa dosa-dosa dan kesalahan melemahkan penglihatan hati sehingga tidak bisa memahami kebenaran sebagaimana seharusnya, serta melemahkan kekuatannya dan tekadnya sehingga tidak bisa bersabar dalam menghadapinya.
Bahkan, dosa-dosa tersebut menumpuk di hati sehingga pemahamannya terbalik, seperti halnya jalannya, sehingga ia menganggap yang salah sebagai benar, yang benar sebagai salah, yang baik sebagai buruk, dan yang buruk sebagai baik.
Akibatnya, ia terjatuh dari jalannya dan kembali kepada Allah dan kehidupan akhirat dalam keadaan mundur menuju tempat tinggal nafsu yang rusak yang puas dengan kehidupan dunia, merasa cukup dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk bertemu dengan-Nya.
Seharusnya sanksi dosa dengan menyebutkan sebatas hukuman ini saja, sudah cukup menjadi alasan untuk meninggalkannya dan menjauhinya. Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan.
Ketaatan adalah Cahaya Hati
ketaatan seorang hamba kepada Rabnya mampu menjadi penerang hati, membersihkannya, mengasahnya, memperkuat dan meneguhkannya, sehingga hati menjadi seperti cermin yang bersih dan jernih, dipenuhi cahaya.
Ketika setan mendekatinya, ia terkena cahaya itu seperti keadaan setan saat mencuri kabar dari langit dan ia tersambar api karena kelancangannya.
Setan dapat memisahkan hati ini lebih kuat daripada serigala memisahkan diri dari singa, sampai-sampai pemiliknya bisa membinasakan setan itu, menjadikannya tunduk, lalu setan-setan berkumpul padanya, dan ada yang berkata kepada yang lain:
"Apa yang terjadi dengannya?"
Dan dijawab:
"Dia tersentuh oleh cahaya ilahi, yang diberikan pandangan kepada manusia!"
فيا نظرةً من قلبِ حُرِّ منوَّرٍ # يكاد لها الشيطان بالنور يحرق
Maka, betapa pentingnya pandangan dari hati yang terang, yang cahayanya hampir saja bisa membakar setan.
Perbandingan Hati yang Terang dan Gelap
Apakah kondisi hati ini setara? Hati yang gelap dengan berbagai keinginannya, setan telah menjadikannya sebagai tempat tinggal dan huniannya. Ketika ia bangun dengan mengajaknya, dan berkata,
"Saya telah mengorbankan diri untuk orang yang tidak berhasil di dunianya maupun di akhiratnya!"
قرينك في الدنيا وفي الحشر بعدها # فأنت قرين لي بكل مكان
فإن كنت في دار الشقاء فإنّني # وأنت جميعا في شقا وهوان
Temanmu (Setan) di dunia dan di hari berkumpul setelahnya, maka kamu adalah teman (setan) bagiku di setiap tempat.
Jika kamu berada di tempat kesengsaraan, maka saya dan kamu semuanya akan mengalami kesengsaraan dan kehinaan.
Allah Swt berfirman:
قال تعالى : ﴿ وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضُ لَهُ شَيْطَانَا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُهْتَدُونَ حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَلَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَن يَنفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ ﴾
Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur`ān), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.Dan sungguh, mereka (setan-setan) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari Kiamat) dia berkata, “Wahai! Sekiranya (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat! Memang (setan itu) teman yang paling jahat (bagi manusia).Dan (harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menzalimi (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam azab itu.” (Surah Az-Zukhruf: 36-39)
Maka Allah Yang Maha Suci memberitahukan bahwa siapa pun yang menjauhi peringatan-Nya - yaitu Al-Quran yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya - dan yang berpaling darinya, buta terhadapnya, sehingga penglihatannya buta terhadap pemahaman, penghayatan serta pengetahuan tentang maksud Allah dari Al-Quran tersebut.
kemudian Allah akan menjadikan setan sebagai temannya, sebagai hukuman dari Allah bagi mereka yang menolak Al-Quran-Nya. Dialah temannya yang tidak pernah meninggalkannya, baik di tempat tinggal maupun dalam perjalanan, dia adalah kekasihnya dan keluarganya yang seburuk-buruk kekasih dan keluarga.
رضيعي لبان ثدي أم تقاسما # بأسحم داج عوض لا نتفرق
"Anak kecil yang menyusu pada ibunya ia memiliki dua pilihan, yaitu tetap bersama ibunya atau memutuskan hubungan dengannya."
Penyesalan Pelaku Dosa saat di Akhirat
Allah Swt memberitahukan bahwa setan akan menghalangi teman dan kekasihnya dari jalan yang mengantarkannya kepada Allah dan surga-Nya. Orang yang tersesat ini akan mengira bahwa dia berada di jalan petunjuk, sehingga ketika kedua temannya datang pada hari kiamat, salah satu dari mereka berkata kepada yang lain:
"Alangkah baiknya jika di antara saya dan kamu ada jarak sejauh antara timur dan barat, sungguh engakau seburuk-buruknya teman yang aku miliki di dunia ini! engkau telah menyesatkanku setelah aku menerima petunjuk, menghalangi aku dari kebenaran, dan menjerumuskanku hingga aku binasa. Sungguh buruklah kamu sebagai temanku pada hari ini!"
Seharusnya Ketika seseorang melihat orang lain yang terkena musibah akan berbagi kesedihannya yang merupakan hiburan dan kenyamanan yang diperoleh melalui rasa empati.
Allah Swt menjelaskan bahwa hal ini tidak berlaku dan tidak terjadi bagi mereka yang bersama-sama mendapatkan siksaan, bahwa teman atau pendamping tidak akan merasa nyaman atau merasa senang sedikit pun melihat siksaan teman yang bersamanya.
Meskipun musibah di dunia telah tersebar dan menjadi lebih ringan, seperti yang diungkapkan oleh al-Khansa' tentang saudaranya, Shakra:
فلولا كثرة الباكين حولي # على إخوانهم لقتلت نفسي وما يبكون مثل أخي ولكن # أعزّي النفس عنه بالتأسي.
"Seandainya tidak ada banyak orang yang menangis di sekitarku karena saudara-saudara mereka, maka aku akan membunuh diri
Tidak ada yang menangis seperti saudaraku, tetapi aku menghibur diriku dengan merasakan empati."
Allah Swt mencegah kenyamanan ini dari mereka yang berada di neraka dengan mengatakan:
وَلَن ينفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ
"Dan tidaklah berguna bagimu pada hari ini, karena kamu telah bersama-sama menerima siksaan." (Surah Az-Zukhruf: 39)
Wa Allahu A'lamu bi Shawab
Sumber
Ad Daa wa Dawaa
Karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyah
(Al imam Abi Abdillah bin muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Qayyim al Jauziyah)

