Kisah Sahabat Rasul: Bilal Bin Rabah [2]

Aku tidak akan mengumandangkan Adzan kepada siapa pun setelah kepegian Rasulullah

 Muadzin Rasulullah "Bilan Bin Rabah [2]"


Hadiah Tombak dari Rasulullah Saw

Raja Najasyi pernah memberikan hadiah kepada Rasulullah yang mulia Saw berupa tiga tombak pendek yang terbuat dari bahan yang langka yang dimiliki raja. Nabi memilih satu untuk dirinya sendiri dan memberikan satu kepada Ali bin Abi Thalib, dan satu lagi kepada Umar bin Khattab.


Kemudian, dia memberikan tombaknya kepada Bilal, yang dia bawa sepanjang hidupnya, termasuk saat hari raya dan saat shalat istisqa (shalat memohon hujan). Bilal juga menancapkannya di hadapannya saat shalat di luar masjid.


Bilal, telah mengikuti perang Badar bersama dengan Nabi, dia menyaksikan bagaimana Allah menepati janji-Nya dan memberikan kemenangan kepada pasukan Muslim, serta menyaksikan kematian orang-orang yang menindasnya yang telah menyiksa dirinya dengan cara yang sangat kejam. Dia juga melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf yang tergeletak dan dikelilingi oleh pedang-pedang kaum Muslim, sementara darah keduanya menetes dari tombak-tombak mereka.


Adzan di atas Ka'bah

saat Rasulullah Muhammad SAW memasuki Makkah setelah kemenangan kaum Muslimin dalam perang Fathu Makkah dan bersamanya penyeru langit Bilal bin Rabah.


Ketika Rasulullah memasuki Ka'bah yang mulia, hanya ada tiga orang yang menemaninya yaitu Utsman bin Thalhah yang membawa kunci Ka'bah al Musyarrofah, Usamah bin Zaid yang merupakan kecintaan Rasulullah dan anak kecintaannya, dan Bilal bin Rabah yang merupakan muadzin Rasulullah.


Ketika waktu shalat Dzuhur tiba, ribuan orang Muslim dan kafir Quraisy berkumpul di sekitar Rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang telah masuk Islam dari orang kafir Quraisy baik karena taat ataupun terpaksa bersyahadat karena kondisi besar tersebut.


saat itu Bilal bin Rabah dipanggil Rasulullah Saw untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan diatasnya kalimat tauhid. Suara adzan Bilal terdengar jelas di seluruh kota Makkah, dan ribuan orang mendongakkan lehernya melihat ke arahnya, sambil menggema mengikuti di belakangnya dengan penuh khusyu'.


Bilal bin Rabah [2]


Orang-orang yang terpaksa Masuk Islam

Adapun orang-orang yang memiliki penyakit di dalam hatinya, mereka iri dan hatinya hancur, serta kedengkian telah membuat hati mereka terkoyak-koyak.


Ketika Bilal mengumandangkan adzan hingga berkata: "Ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", maka Juwairiyah binti Abu Jahal berkata: "Demi nyawaku, sungguh Allah telah meninggikan namamu."


Tentang shalat, maka kami shalat. Namun, kami - demi Allah - tidak menyukai orang yang membunuh orang yang kami cintai. Ayahnya telah terbunuh di Badar.


Khalid bin Usaid berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan ayahku sehingga ia tidak menyaksikan hari ini." Ayahnya telah meninggal sehari sebelum penaklukan Mekah.


Harits bin Hisyam berkata, "Celakalah..! Seandainya kami mati sebelum melihat Bilal di atas Ka'bah".


Al-Hakam bin Abi al-'As berkata: "Ini - demi Allah - adalah pidato yang luar biasa, ketika seorang budak Bani Jumah menggetarkan bangunan Ka'bah ini".


Abu Sufyan bin Harb juga bersama mereka dan berkata: "Adapun aku, aku tidak akan mengatakan apa-apa ... jika aku mengungkapkan satu kata, maka batu ini akan membawanya kepada Muhammad bin Abdullah.


Bilal telah menjadi muadzin untuk Rasulullah selama hidupnya. Rasul yang mulia selalu merasa tenang mendengar suara yang dimerdukan Allah akibat siksa yang pedih, yang dia mengulang-ulang Ahad...ahad..


Adzan Terberat yang dirasakan Bilal

Ketika Rasulullah wafat dan waktu shalat tiba, Bilal memanggil orang-orang untuk shalat. Rasulullah belum dikuburkan saat itu. Ketika Bilal sampai pada kalimat "Ashhadu anna Muhammadan Rasulullah" (Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tangisannya tercekik dan suaranya tertahan di tenggorokannya.


Orang-orang Muslim menangis dengan sedih dan tenggelam dalam ratapan. Bilal mengumandangkan adzan lagi setelah itu selama tiga hari berturut-turut. Setiap kali sampai pada kalimat "Ashhadu anna Muhammadan Rasulullah", ia menangis dan orang-orang yang mendengar juga menangis.


Setelah itu, Bilal meminta kepada Abu Bakar, khalifah Rasulullah, agar tidak diminta lagi untuk menjadi muadzin karena dia sudah tidak mampu melakukannya. Dia juga meminta izin untuk berangkat ke negeri Syam untuk berjihad di jalan Allah. Abu Bakar ragu-ragu dalam memberikan izin kepadanya.


Bilal berkata kepada Abu Bakar, "Jika engkau membeliku untuk dirimu sendiri, maka tahanlah aku. Tapi jika kamu telah membebaskanku untuk Allah, maka biarkan aku untuk siapa yang membebaskanku." Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, aku tidak membeli kamu kecuali untuk Allah. Dan tidaklah aku membebaskanmu kecuali karena Allah"


Dan Bilal berkata, "Aku tidak akan mengumandangkan Adzan kepada siapa pun setelah kepergian Rasulullah Saw". Abu Bakar menjawab, "Iya silakan".


Bilal pergi dari Madinah bersama dengan rombongan Muslim pertama yang dikirim, dan menetap di Dariyya, dekat Damaskus. Dia tetap tidak mengumandangkan adzan sampai Umar bin Khattab datang ke Syam.


Kemudian Umar bertemu dengan Bilal setelah lama tidak bertemu dan sangat merindukannya. Bahkan ketika Umar menyebut Abu Bakar di depannya, dia berkata, "Abu Bakar adalah sayyiduna yang membebaskan sayyidana Bilal ra.".


Adzan Terakhir Bilal

Di sana, para sahabat memutuskan agar Bilal mengumandangkan adzan di depan Umar. Ketika suaranya terdengar, Umar menangis dan para sahabat juga menangis sampai janggut mereka basah oleh air mata. Bilal mengingatkan mereka pada kenangan-kenangan mereka di Madinah.


Bilal tetap menjadi seorang muadzin sampai akhir hayatnya di Damaskus. Ketika dia sakit dan sekarat, istrinya berada di sisinya dan menangis sambil berkata, "Kami sangat sedih". Setiap kali dia membuka matanya, dia menjawab, "Kami senang". Kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya dan mengulangi kalimat terakhir, "Besok kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad dan para sahabatnya..... Besok kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad dan para sahabatnya..... ".


Wa Allahu A'lamu bi Shawab


Semoga kita pun bisa dipertemukan dengan sang kekasih Rasulullah Muhammad Saw.


Oleh: Umm_Chaera


Baca juga kisah sahabat

Abu Darda [1]

Abu Darda [2]

Bilal bin Rabah [1]

Bilal bin Rabah [2]

Wahsyi bin Harb

Abu Ayyub al Anshory

Suraqah Bin Malik [1]

Ikrimah bin Abu Jahal [1]

Suraqah Bin Malik [2]

Ja'far bin Abi Thalib [1]

Jafar bin Abi Thalib [2]

LihatTutupKomentar