Kisah Sahabat Rasul: Wahsyi bin Harb

Wahsyi bin Harb


Taubat sang Penjagal Sayyidu Syuhada "Wahsyi bin Harb"


"dia membunuh orang terbaik setelah Nabi Muhammad ... dan juga membunuh orang yang terburuk"

-Sejarawan-.


Latar Belakang Wahsyi


Siapakah yang membuat hati Rasulullah ﷺ sangat sedih, ketika pamannya Hamzah bin Abdil Mutthalib, terbunuh pada hari Uhud?!


Kemudian dia menyembuhkan hati umat Islam, ketika dia membunuh Musailamah al-Kadzdzab pada hari Yamamah?


Dia adalah Wahsyi bin Harb al-Habasyi, yang memiliki kunyah "Abu Dasmah".

Dia memiliki kisah yang sangat kejam, menyedihkan, dan berdarah. Biarkan dia msnceritakan tragedinya sendiri,

Wahsyi berkata,


"Dulu saya adalah seorang budak dari Jubair bin Mut'im, salah satu tokoh Quraisy yang disegani. Pamannya, Tuaimah, terbunuh pada perang Badar oleh Hamzah bin Abdil Muttalib.


Dia sangat sedih dan bersumpah atas nama Al-Laata dan Al-Uzza bahwa dia akan membalas dendam atas kematiannya pamannya dan membunuh pembunuhnya. Maka dia pun menunggu kesempatan untuk membunuh Hamzah.


Tidak lama setelah itu, kaum Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Uhud dengan tujuan menyerang Muhammad bin Abdullah sebagai balas dendam atas kematian mereka di Badar.


Mereka menyusun, mengatur, mengumpulkan pasukan, dan menyiapkan perbekalan mereka. Kemudian, kepemimpinan diserahkan kepada Abu Sufyan bin Harb.


Abu Sufyan memutuskan untuk membuat pasukan yang terdapat didalamnya sekelompok perempuan dari keluarga Quraisy yang ayah, putra, saudara laki-laki, atau salah satu kerabat dekat mereka telah tewas di Badar, agar mereka menjadi penyemangat bagi pasukan untuk bertempur dan mencegah mereka lari dari medan perang.


Di antara perempuan-perempuan itu adalah istrinya sendiri, yaitu Hind binti 'Utbah, yang ayah, paman, dan saudara laki-lakinya telah tewas di Badar.


Ketika pasukan hampir siap untuk berangkat, Jubair bin Muth'im menghadap saya dan bertanya, "Apakah engkau wahai Abu Dasmah, ingin melepaskan diri dari perbudakan?"


Saya menjawab, "Siapa yang bisa membantu saya dalam hal itu?"


Jubair berkata, "Aku akan membantumu.

Aku pun penasaran: "Bagaimana caranya?"


Jubair menhawab, "Jika engkau telah membunuh Hamzah bin 'Abdul Muthalib, paman Muhammad dengan pamanku Tu'aimah bin Adiy, maka engkau bebas."


Saya bertanya, "Siapa yang akan menjamin bahwa janji itu akan ditepati?" Jubair menjawab, "Siapa saja yang engkau inginkan. Aku bersaksi atas janji itu di hadapan semua orang." Saya pun setuju dan berkata, "Baik saya akan melakukannya".


Wahsyi bercerita, "Saya adalah seorang pelempar tombak dari suku Habasyah, saya melemparkan tombak dengan cara yang sama seperti suku Habasyah, sehingga saya tidak akan meleset sedikitpun dari sasarannya."


"Saya pun mengambil tombakku dan bergabung dengan pasukan, dan berjalan di belakang mereka dekat dengan para wanita, karena saya tidak memiliki tujuan dan keinginan untuk berperang."


"Setiap kali saya melewati Hindun, istri Abu Sufyan, atau dia melewati saya, dan melihat tombak bersinar di tangan saya di bawah sinar matahari, dia berkata, "Wahai Abu Dasmah, sembuhkanlah rasa sakit hatiku".


"Ketika kami mencapai medan perang Uhud dan dua pasukan bertemu, saya mencari Hamzah bin Abdul Muthalib yang saya kenal sebelumnya. Hamzah tidak sulit ditemukan oleh siapa pun karena dia mengenakan bulu burung unta di kepalanya untuk menunjukkan kesatriaan nya seperti yang dilakukan oleh seorang pemberani dari orang Arab"


Wahsyi Berhadapan denga Hamzah ra.


"Tidak butuh waktu lama, saya melihat Hamzah menderam di antara orang banyak seperti unta abu yang kuat menggeram, dengan pedangnya dia menebas siapa pun dari musuh Allah hingga tidak ada yang bisa bertahan melawannya.


"Saat saya bersiap-siap untuk menyerangnya, saya bersembunyi di balik pohon atau batu, seorang pria berkuda dari suku Quraisy bernama Sibaa bin Abdul Uzza mendekati saya dan meminta saya untuk menghadapinya. Dia berkata, 'Hadapi aku, Hai Hamzah!, hadapi aku!'"


Hamzah pun muncul dan berkata, "Ayo datang kepadaku, hai anak musyrik...datanglah kesini!"


Kemudian Hamzah dengan cepat menyerang dengan pedangnya dan orang itu pun jatuh dengan darah ditangannya.


Saat itulah saya berdiri di depan Hamzah dan menggoyangkan pedang saya sampai hatiku menjadi tenang, lalu saya menusukkan tombakku ke arah Hamzah, lalu tombakku menancap di bawah perutnya dan keluar di antara kedua kakinya.


Dia berjalan tertatih dua langkah ke arahku, lalu dia jatuh dan tombak itu tertancap di tubuhnya. Saya meninggalkannya dengan tombak di dalamnya sampai saya yakin bahwa dia telah meninggal, kemudian saya datang dan mencabut tombakku dari tubuhnya dan kembali ke tenda, dan saya duduk di sana; Saya tidak memerlukan apa-apa selain itu, dan saya membunuhnya agar aku dibebaskan dari perbudakan.



Kemudian terjadi pertempuran sengit antara pasukan muslim dan pasukan musyrik Quraisy, ada yang terus melawan dan ada juga yang lari. Lingkaran (pasukan) masih berputar di atas pasukan Muhammad dan banyak di antara mereka yang terbunuh.


Pada saat itu, Hindun binti Utbah sangat senang dengan korban dari kaum Muslim dan di belakangnya ada sekelompok perempuan. Dia memberikan contoh kepada mereka dengan membelah perut korban kaum muslimin, mencongkel mata mereka, mengiris hidung mereka, dan memotong telinga mereka.


Wahsyi Dibebaskan dari Perbudakan


Kemudian Hindun menjadikan hidung-hidung dan telinga-telinga itu sebagai kalung dan anting-anting untuk dipakainya sebagai hiasan, dan memberikan kalung serta anting-anting emasnya kepadaku dan berkata, "Ini untukmu, ya Abu Dasmah... Simpanlah karena mereka sangat berharga."


Ketika pertempuran Uhud selesai, aku kembali ke Mekah bersama pasukan dan Jubair bin Muth'im memenuhi janjinya untuk membebaskanku, dan aku pun menjadi bebas serta menjadi orang yang merdeka.


Akan tetapi urusan Muhammad membuat umat Islam tumbuh dan berkembang dari hari ke hari, sehingga mereka semakin kuat setiap saat. Setiap kali urusan Muhammad menjadi besar, aku merasa sangat khawatir dan takut sendiri.


Aku masih dalam keadaan seperti itu, sampai Muhammad memasuki Mekah dengan tentaranya yang besar sebagai pemenang. Saat itu, aku melarikan diri ke Taif untuk mencari perlindungan. Namun, penduduk Taif akhirnya menjadi Muslim dan mengirim delegasi untuk bertemu dengan Muhammad dan mengumumkan masuk Islam mereka.


Pada saat itu, aku merasa tertangkap dan dunia terasa sempit bagiku. Aku merasa bingung kemana aku harus berlari, aku pun berkata, "Apakah aku harus pergi ke Syam, Yaman, atau beberapa negeri lain? Demi Allah, aku merasa sangat tertekan dalam kegelapan pikiranku".


Wahsyi Bertaubat dan Masuk Islam


Kemudian, ada seorang pria bijak yang berkata padaku, "Celakalah dirimu, wahai Wahsyi, Demi Allah, Muhammad tidak pernah membunuh siapa pun dari manusia jika masuk ke dalam agamanya, dan bersyahadat dengan syahadat yang hak".


Setelah saya mendengar perkataannya, saya keluar dengan wajah saya yang tertunduk ke Yatsrib (Madinah) mencari Nabi Muhammad, saya menemukannya, bahwa dia ada di masjid.


saya masuk ke masjid dengan takut dan hati-hati, sambil berjalan menuju ke arahnya sampai saya berdiri di atas kepalanya dan mengucapkan: "Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya".


Setelah Nabi mendengar dua kalimat syahadat itu, dia mengangkat kepalanya ke arah saya. Ketika dia mengenali saya, dia mengalihkan pandangannya dari saya dan berkata, "Apakah kamu Wahsyi?" Saya menjawab, 'Ya, ya Rasulullah".


Dia berkata, "Duduklah dan ceritakanlah bagaimana kamu membunuh Hamzah". Saya duduk dan menceritakan kisah itu kepadanya. Setelah saya selesai berbicara, dia mengalihkan wajahnya dari saya dan berkata, "Celakalah engkau, Wahsyi, sembunyikanlah wajahmu dariku agar aku tidak pernah melihatmu lagi setelah hari ini".


Sejak hari itu, saya menghindari dari pandangan Nabi yang mulia agar tidak pernah melihat diriku. Jika para sahabat duduk menghadapnya, saya mengambil tempat di belakangnya dan saya tetap berada di belakangnya sampai Rasulullah wafat dan pergi menghadap sisi Tuhan-Nya."


Wahsyi Membunuh Nabi Palsu


Lalu Wahsyi melanjutkan ceritanya, "Meskipun aku tahu bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa masa lalu, saya masih merasa terpukul oleh kejahatan yang saya lakukan. Aku merasa sangat menyesal atas tindakanku yang telah menyakiti Islam dan umat Muslim. Saya pun memanfaatkan kesempatan untuk menebus kesalahan saya yang telah terjadi di masa lalu.


Ketika Rasulullah SAW menghadap Rabbnya, kepemimpinan umat Islam dilimpahkan ke tangan Abu Bakar, kelompok Bani Hanifah yang mengikuti Musailamah al Kaddzab mulai murtad.


Khalifah Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah ke agama Allah.


Saya berkata dalam hati " ini adalah kesempatanmu wahai Wahsyi maka gunakanlah jangan sampai lepas dari tanganmu"


Kemudian aku bergabung dengan pasukan Muslim dengan membawa tombak yang pernah aku gunakan untuk membunuh " Sayyidu Syuhada" Hamzah bin Abdul Muttalib. Saya mentekadkan diriku untuk membunuh Musailamah dengan tombakku atau aku syahid.


Ketika pasukan Muslim menyerang Musailamah dan pasukannya di "Taman Kematian", mereka berhadapan dengan musuh-musuh Allah, dan aku memutuskan untuk mengintai Musailamah, aku melihanya berdiri dengan pedang di tangannya, dan aku pun melihat seorang pria dari kaum Anshar mengintanya sepertiku, kita berdua ingin membunuhnya ...


Ketika saya berdiri di dekatnya, saya mengguncang-guncangkan tombakku sampai kokoh di tanganku, lalu saya mendorongnya ke arah Musailamah dan akhirnya tombakku mengenainya.


Pada saat yang sama ketika saya menancapkan tombakku terhadap Musailamah, seorang laki-laki Anshor melompat dan menyerangnya dengan pedang...


Tuhanmu lebih tahu siapa yang membunuhnya. Jika saya yang membunuhnya, maka saya telah membunuh salah satu orang terbaik setelah Nabi Muhammad Sae... dan saya juga telah membunuh orang paling jahat.


Wa Allahu a'lamu bi Shawab


Oleh: Umm_Chaera


Baca juga kisah sahabat

Abu Darda [1]

Abu Darda [2]

Bilal bin Rabah [1]

Bilal bin Rabah [2]

Wahsyi bin Harb

Abu Ayyub al Anshory

Suraqah Bin Malik [1]

Ikrimah bin Abu Jahal [1]

Suraqah Bin Malik [2]

Ja'far bin Abi Thalib [1]

Jafar bin Abi Thalib [2]



"dia membunuh orang terbaik setelah Nabi Muhammad ... dan juga membunuh orang yang terburuk"

-Sejarawan-.



Latar Belakang Wahsyi


Siapakah yang membuat hati Rasulullah ﷺ sangat sedih, ketika pamannya Hamzah bin Abdil Mutthalib, terbunuh pada hari Uhud?


Kemudian dia menyembuhkan hati umat Islam, ketika dia membunuh Musailamah al-Kadzdzab pada hari Yamamah?


Dia adalah Wahsyi bin Harb al-Habasyi, yang memiliki kunyah "Abu Dasmah".

Dia memiliki kisah yang sangat kejam, menyedihkan, dan berdarah. Biarkan dia msnceritakan tragedinya sendiri,

Wahsyi berkata,


"Dulu saya adalah seorang budak dari Jubair bin Mut'im, salah satu tokoh Quraisy yang disegani. Pamannya, Tuaimah, terbunuh pada perang Badar oleh Hamzah bin Abdil Muthalib.



Dia sangat sedih dan bersumpah atas nama Al-Laata dan Al-Uzza bahwa dia akan membalas dendam atas kematiannya pamannya dan membunuh pembunuhnya. Maka dia pun menunggu kesempatan untuk membunuh Hamzah.



Tidak lama setelah itu, kaum Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Uhud dengan tujuan menyerang Muhammad bin Abdullah sebagai balas dendam atas kematian mereka di Badar.


Mereka menyusun, mengatur, mengumpulkan pasukan, dan menyiapkan perbekalan mereka. Kemudian, kepemimpinan diserahkan kepada Abu Sufyan bin Harb.


Abu Sufyan memutuskan untuk membuat pasukan yang terdapat didalamnya sekelompok perempuan dari keluarga Quraisy yang ayah, putra, saudara laki-laki, atau salah satu kerabat dekat mereka telah tewas di Badar, agar mereka menjadi penyemangat bagi pasukan untuk bertempur dan mencegah mereka lari dari medan perang.


Di antara perempuan-perempuan itu adalah istrinya sendiri, yaitu Hind binti 'Utbah, yang ayah, paman, dan saudara laki-lakinya telah tewas di Badar.


Ketika pasukan hampir siap untuk berangkat, Jubair bin Muth'im menghadap saya dan bertanya, "Apakah engkau wahai Abu Dasmah, ingin melepaskan diri dari perbudakan?"


Saya menjawab, "Siapa yang bisa membantu saya dalam hal itu?"


Jubair berkata, "Aku akan membantumu.

Aku pun penasaran: "Bagaimana caranya?"


Jubair menhawab, "Jika engkau telah membunuh Hamzah bin 'Abdul Muthalib, paman Muhammad dengan pamanku Tu'aimah bin Adiy, maka engkau bebas."


Saya bertanya, "Siapa yang akan menjamin bahwa janji itu akan ditepati?" Jubair menjawab, "Siapa saja yang engkau inginkan. Aku bersaksi atas janji itu di hadapan semua orang." Saya pun setuju dan berkata, "Baik saya akan melakukannya".


Wahsyi bercerita, "Saya adalah seorang pelempar tombak dari suku Habasyah, saya melemparkan tombak dengan cara yang sama seperti suku Habasyah, sehingga saya tidak akan meleset sedikitpun dari sasarannya."


"Saya pun mengambil tombakku dan bergabung dengan pasukan, dan berjalan di belakang mereka dekat dengan para wanita, karena saya tidak memiliki tujuan dan keinginan untuk berperang."


"Setiap kali saya melewati Hindun, istri Abu Sufyan, atau dia melewati saya, dan melihat tombak bersinar di tangan saya di bawah sinar matahari, dia berkata, "Wahai Abu Dasmah, sembuhkanlah rasa sakit hatiku".


"Ketika kami mencapai medan perang Uhud dan dua pasukan bertemu, saya mencari Hamzah bin Abdul Muthalib yang saya kenal sebelumnya. Hamzah tidak sulit ditemukan oleh siapa pun karena dia mengenakan bulu burung unta di kepalanya untuk menunjukkan kesatriaan nya seperti yang dilakukan oleh seorang pemberani dari orang Arab"


Wahsyi Berhadapan dengan Hamzah ra.


"Tidak butuh waktu lama, saya melihat Hamzah menderam di antara orang banyak seperti unta abu yang kuat menggeram, dengan pedangnya dia menebas siapa pun dari musuh Allah hingga tidak ada yang bisa bertahan melawannya.


"Saat saya bersiap-siap untuk menyerangnya, saya bersembunyi di balik pohon atau batu, seorang pria berkuda dari suku Quraisy bernama Sibaa bin Abdul Uzza mendekati saya dan meminta saya untuk menghadapinya. Dia berkata, 'Hadapi aku, Hai Hamzah!, hadapi aku!'"


Hamzah pun muncul dan berkata, "Ayo datang kepadaku, hai anak musyrik...datanglah kesini!"


Kemudian Hamzah dengan cepat menyerang dengan pedangnya dan orang itu pun jatuh dengan darah ditangannya.


Saat itulah saya berdiri di depan Hamzah dan menggoyangkan pedang saya sampai hatiku menjadi tenang, lalu saya menusukkan tombakku ke arah Hamzah, lalu tombakku menancap di bawah perutnya dan keluar di antara kedua kakinya.


Dia berjalan tertatih dua langkah ke arahku, lalu dia jatuh dan tombak itu tertancap di tubuhnya. Saya meninggalkannya dengan tombak di dalamnya sampai saya yakin bahwa dia telah meninggal, kemudian saya datang dan mencabut tombakku dari tubuhnya dan kembali ke tenda, dan saya duduk di sana; Saya tidak memerlukan apa-apa selain itu, dan saya membunuhnya agar aku dibebaskan dari perbudakan.



Kemudian terjadi pertempuran sengit antara pasukan muslim dan pasukan musyrik Quraisy, ada yang terus melawan dan ada juga yang lari. Lingkaran (pasukan) masih berputar di atas pasukan Muhammad dan banyak di antara mereka yang terbunuh.


Pada saat itu, Hindun binti Utbah sangat senang dengan korban dari kaum Muslim dan di belakangnya ada sekelompok perempuan. Dia memberikan contoh kepada mereka dengan membelah perut korban kaum muslimin, mencongkel mata mereka, mengiris hidung mereka, dan memotong telinga mereka.



Wahsyi Dibebaskan dari Perbudakan


Kemudian Hindun menjadikan hidung-hidung dan telinga-telinga itu sebagai kalung dan anting-anting untuk dipakainya sebagai hiasan, dan memberikan kalung serta anting-anting emasnya kepadaku dan berkata, "Ini untukmu, ya Abu Dasmah... Simpanlah karena mereka sangat berharga."


Ketika pertempuran Uhud selesai, aku kembali ke Mekah bersama pasukan dan Jubair bin Muth'im memenuhi janjinya untuk membebaskanku, dan aku pun menjadi bebas serta menjadi orang yang merdeka.


Akan tetapi urusan Muhammad membuat umat Islam tumbuh dan berkembang dari hari ke hari, sehingga mereka semakin kuat setiap saat. Setiap kali urusan Muhammad menjadi besar, aku merasa sangat khawatir dan takut sendiri.


Aku masih dalam keadaan seperti itu, sampai Muhammad memasuki Mekah dengan tentaranya yang besar sebagai pemenang. Saat itu, aku melarikan diri ke Taif untuk mencari perlindungan. Namun, penduduk Taif akhirnya menjadi Muslim dan mengirim delegasi untuk bertemu dengan Muhammad dan mengumumkan masuk Islam mereka.


Pada saat itu, aku merasa tertangkap dan dunia terasa sempit bagiku. Aku merasa bingung kemana aku harus berlari, aku pun berkata, "Apakah aku harus pergi ke Syam, Yaman, atau beberapa negeri lain? Demi Allah, aku merasa sangat tertekan dalam kegelapan pikiranku".


Wahsyi Bertaubat dan Masuk Islam

Kemudian, ada seorang pria bijak yang berkata padaku, "Celakalah dirimu, wahai Wahsyi, Demi Allah, Muhammad tidak pernah membunuh siapa pun dari manusia jika masuk ke dalam agamanya, dan bersyahadat dengan syahadat yang hak".


Setelah saya mendengar perkataannya, saya keluar dengan wajah saya yang tertunduk ke Yatsrib (Madinah) mencari Nabi Muhammad, saya menemukannya, bahwa dia ada di masjid.


saya masuk ke masjid dengan takut dan hati-hati, sambil berjalan menuju ke arahnya sampai saya berdiri di atas kepalanya dan mengucapkan: "Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya".


Setelah Nabi mendengar dua kalimat syahadat itu, dia mengangkat kepalanya ke arah saya. Ketika dia mengenali saya, dia mengalihkan pandangannya dari saya dan berkata, "Apakah kamu Wahsyi?" Saya menjawab, 'Ya, ya Rasulullah".


Dia berkata, "Duduklah dan ceritakanlah bagaimana kamu membunuh Hamzah". Saya duduk dan menceritakan kisah itu kepadanya. Setelah saya selesai berbicara, dia mengalihkan wajahnya dari saya dan berkata, "Celakalah engkau, Wahsyi, sembunyikanlah wajahmu dariku agar aku tidak pernah melihatmu lagi setelah hari ini".


Sejak hari itu, saya menghindari dari pandangan Nabi yang mulia agar tidak pernah melihat diriku. Jika para sahabat duduk menghadapnya, saya mengambil tempat di belakangnya dan saya tetap berada di belakangnya sampai Rasulullah wafat dan pergi menghadap sisi Tuhan-Nya."



Wahsyi Membunuh Nabi Palsu


Lalu Wahsyi melanjutkan ceritanya, "Meskipun aku tahu bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa masa lalu, saya masih merasa terpukul oleh kejahatan yang saya lakukan. Aku merasa sangat menyesal atas tindakanku yang telah menyakiti Islam dan umat Muslim. Saya pun memanfaatkan kesempatan untuk menebus kesalahan saya yang telah terjadi di masa lalu.


Ketika Rasulullah SAW menghadap Rabbnya, kepemimpinan umat Islam dilimpahkan ke tangan Abu Bakar, kelompok Bani Hanifah yang mengikuti Musailamah al Kaddzab mulai murtad.


Khalifah Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah ke agama Allah.


Saya berkata dalam hati " ini adalah kesempatanmu wahai Wahsyi maka gunakanlah jangan sampai lepas dari tanganmu"


Kemudian aku bergabung dengan pasukan Muslim dengan membawa tombak yang pernah aku gunakan untuk membunuh "Sayyidu Syuhada" Hamzah bin Abdul Muttalib. Saya mentekadkan diriku untuk membunuh Musailamah dengan tombakku atau aku syahid.


Ketika pasukan Muslim menyerang Musailamah dan pasukannya di "Taman Kematian", mereka berhadapan dengan musuh-musuh Allah, dan aku memutuskan untuk mengintai Musailamah, aku melihanya berdiri dengan pedang di tangannya, dan aku pun melihat seorang pria dari kaum Anshar mengintanya sepertiku, kita berdua ingin membunuhnya ...


Ketika saya berdiri di dekatnya, saya mengguncang-guncangkan tombakku sampai kokoh di tanganku, lalu saya mendorongnya ke arah Musailamah dan akhirnya tombakku mengenainya.


Pada saat yang sama ketika saya menancapkan tombakku terhadap Musailamah, seorang laki-laki Anshor melompat dan menyerangnya dengan pedang...


Tuhanmu lebih tahu siapa yang membunuhnya. Jika saya yang membunuhnya, maka saya telah membunuh salah satu orang terbaik setelah Nabi Muhammad Sae... dan saya juga telah membunuh orang paling jahat.



Wa Allahu a'lamu bi Shawab



Oleh: Umm_Chaera


Baca juga kisah sahabat

Abu Darda [1]

Abu Darda [2]

Bilal bin Rabah [1]

Bilal bin Rabah [2]

Wahsyi bin Harb

Abu Ayyub al Anshory

Suraqah Bin Malik [1]

Ikrimah bin Abu Jahal [1]

Abdullah bin Jahsyi [1]

LihatTutupKomentar