Kisah Sahabat Rasul: Abdurrahman bin Auf (2)

Abdurrahman bin Auf (2)

Sang Pengusaha yang Sukses Dunia Akhirat "Abdurrahman bin Auf (2)"


Kemuliaan Abdurrahman bin Auf

Saat Pasukan berangkat ke Tabuk, Allah memuliakan Abdurrahman bin Auf dengan cara yang tidak diberikan kepada siapa pun di antara orang-orang Muslim.


Waktu itu telah masuk waktu shalat dan Rasulullah tidak ada di sana, lalu Abdurrahman bin Auf memimpin shalat, saat hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba dan bergabung dengan mereka, mengikuti Abdurrahman bin Auf dan shalat di belakangnya.


Apa kah ada kehormatan yang lebih mulia dan lebih utama dari keutaamaan menjadi imam bagi pemimpin seluruh makhluk dan Imam para Nabi, Muhammad bin Abdullah?!!


Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi menemui Dzat yang paling tinggi, Abdurrahman bin Auf diberi tugas untuk memenuhi kebutuhan para ibu kaum muslimin. Ia mengurusi dan memenuhi kebutuhan mereka, Abdurrahman keluar bersama mereka jika mereka hendak keluar, serta menemani mereka jika hendak berhaji, selain itu juga ia mempersiapkan kendaraan dan perbekalan mereka yang berupa tandu.


Hal tersebut adalah salah satu keutamaan dari Abdurrahman bin Auf yang diakui oleh para ibu kaum muslimin. Ia berhak untuk membanggakan diri atas hal tersebut.


Dan sungguh telah sampai kepada orang-orang muslim dan para ibunda kaum muslimin kebaikan Abdurrahman bin Auf yang telah menjual sebidang tanah dengan harga 40.000 dinar, kemudian ia membagi seluruh hasil penjualannya kepada Bani Zuhrah yang merupakan suku dari ibunda Rasulullah Saw, fakir miskin dari kalangan muslim dan para Muhajirin, serta istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.


Ketika ia mengirimkan bagian yang telah ditetapkan untuk Ummul Mukminin Aisyah, semoga Allah ta'ala meridhoinya, maka beliau bertanya: "Siapa yang mengirimkan uang ini?" Lalu dikatakan: "Abdurrahman bin Auf."


Aisyah lalu berkata, "Rasulullah pernah bersabda bahwa tidak ada yang menghadiahimu setelahku selain orang yang sabar."


Doa Rasulullah Saw terkabul, harta Abdurrahman bin Auf pun diberkahi, bisnisnya menjadi meningkat dan berkembang, dan ternaknya pun berkembang pesat.


Barang-barang dari kota Madinah dan luar kota datang kepadanya, membawa bahan makanan, seperti gandum, tepung, minyak, pakaian, perabotan, dan barang-barang lain yang diperlukan orang-orang. Bahkan membawa barang-barang yang melebihi kebutuhan mereka sendiri.


Pada suatu hari, kafilah milik Abdurrahman bin Auf yang berjumlah 700 unta tiba di Madinah. 

ya, 700 unta... 

Yang membawa barang dagangan dan kebutuhan manusia.


Saat kafilah memasuki Madinah, bumi berguncang dan membuat kebisingan dan keributan karena jumlah unta yang banyak.


Kemudian Aisyah bertanya, "keguncangan apa ini?". dan dikatakan kepadanya bahwa itu adalah kafilah 700 unta milik Abdurrahman bin Auf yang membawa bahan makanan dan kebutuhan pokok Seperti, gandum, tepung dan makanan.


Aisyah ra kemudian memujinya dengan berkata, "Semoga Allah memberkahinya atas rejeki yang diberikan kepadanya di dunia dan pahala yang lebih besar di akhirat". 


Sebelum unta diberkahi, berita tersebut telah disampaikan kepada Abdurrahman bin Auf. Saat kabar yang disampaikan oleh Ummul Mukminin didengarnya, ia segera bergegas menuju ke Aisyah dan berkata, "Saya bersaksi kepadamu, wahai ibuku, bahwa semua unta ini dengan beban-beban dipunggungnya, adalah untuk jalan Allah."


Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada 'Abdurrahman bin 'Auf agar Allah memberikan berkah kepadanya disepanjang hidupnya, sehingga ia menjadi sahabat yang paling paling kaya dan banyak harta.


Akan tetapi, 'Abdurrahman bin 'Auf menjadikan semua hartanya untuk diinfakkan di jalan Allah dan Rasul-Nya.


Ia menginfakkan dengan kedua tangannya baik kanan maupun kiri, terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Ia memberikan sedekah sebesar 40 ribu dirham perak, 40 ribu dinar emas, dan satu auqiyah emas. Ia juga membantu mujahid dengan 500 kuda dan 1500 unta.


Saat menjelang ajalnya, ia memerdekakan banyak budak dan meninggalkan warisan sebesar 400 dinar emas untuk setiap orang yang terlibat dalam Peperangan Badr, yang berjumlah 100 orang dan mereka mendapatkan bagiannya.


Ia juga meninggalkan warisan yang besar untuk setiap ummahatul mukminin hingga ibunda Aisyah radhiallahu 'anha sering mendoakan 'Abdurrahman bin 'Auf dan berkata, "Semoga Allah memberinya minuman dari air Salsabil".


Kemudian setelah itu, dia meninggalkan harta yang sulit dihitung jumlahnya untuk para pewarisnya, dia memiliki seribu unta, seratus kuda, dan tiga ribu domba. Dan istrinya berjumlah empat yang mendapat bagian empat per delapan, dan masing-masing dari mereka diberikan delapan puluh ribu.


Dan dia meninggalkan emas dan perak yang tidak dibagi kepada ahli warisnya, yang dipotong-potong dengan kapak, sehingga tangan-tangan para pria terluka karena memotongnya. Semua itu terjadi berkat doa Rasulullah agar memberkati hartanya.


Namun, kekayaan itu tidak memikat Abdul Rahman bin Auf dan tidak mengubahnya, sehingga ketika orang melihatnya di antara budak-budaknya, mereka tidak bisa membedakan antara dia dan mereka.


Pada suatu hari, makanan dibawa kepadanya saat dia sedang berpuasa, lalu dia melihat ke arah makanan itu dan berkata, "Musaab bin Umair telah terbunuh - ia lebih baik dari saya - kami tidak menemukan padanya kecuali kain kafan yang menutupi kepalanya tapai kakinya terbuka, dan jika kakinya yang ditutupi maka kepalanya terbuka." Kemudian Allah meluaskan dunia dengan sangat luas..., namun aku takut bahwa pahalaku telah disegerakan untukku...".


Kemudian dia mulai menangis dan terisak-isak hingga tidak berselera makan.


bahagialah Abdurrahman bin Auf dan seribu iri hati baginya.... Dia telah diberi kabar gembira tentang surga oleh Nabi yang jujur dan terpercaya, Muhammad bin Abdullah. Jenazahnya diusung ke tempat peristirahatan terakhirnya oleh paman Rasulullah, Sa'ad bin Abi Waqqas. Disholati oleh dzu nurain Utsman bin Affan, dimakamkan oleh pemimpin kaum muslimin Ali bin Abi Thalib kw, sambil berkata: "Pergilah, kamu telah mencapai kemurniannya dan mendahului kesia-siaan. Semoga Allah merahmatimu." (Hadis riwayat Ahmad)


Wa Allahu A'lamu bi shawab


Oleh: Umm_Chaera


Sumber:

Shuwar min Hayatis Shahabah


Baca juga kisah sahabat Rasulullah

Abdullah bin Masud (1)

Abdullah bin Masud (2)

Salman al Farisi

Abdullah bin Abbas (1)

Abdullah bin Abbas (2)

Abdullah bin Abbas (3)

Abdurrahman bin Auf (1)

Abdurrahman bin Auf (2)


Saad bin Abi waqash (1)


Saad bin Abi Waqash (2)


Abu Hurairah ad Dawsy (1)


Abu Hurairah ad Dawsy (2)


Suhaib Ar Rumy


Khabab bin Al Aarat


Inspirasi kata Mutiara

KamutQ

LihatTutupKomentar