Sang Pemanah Ulung "Sa'ad bin Abi Waqash (2)"
Hari masuk Islamnya Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu merupakan salah satu hari yang paling banyak kebajikannya bagi umat Islam, dan dia memberikan kontribusi yang besar bagi Islam.
Pada hari pertempuran Badar, Sa'd bin Abi Waqqas dan adiknya Umair berada di medan perang. Pada saat itu Umair masih muda dan belum baligh dan belum mencapai usia dewasa. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyemangati para pejuang Muslim sebelum pertempuran, Umayr, saudara Sa'd, merasa takut bahwa Rasulullah akan mengusirnya karena usianya yang masih muda.
Namun, Rasulullah melihat Umair dan menolaknya dengan lembut. Umair pun menangis hingga membuat hati Nabi tersentuh dan memberinya izin kepadanya.
Saat itu, Sa'd merasa gembira dan mendatangi Umair dan mengikatkan pedang di atas bahunya. Kemudian, kedua saudara tersebut berangkat berjuang di jalan Allah dengan tekad dan semangat yang kuat.
Ketika pertempuran berakhir, Saad kembali sendirian ke Madinah, sedangkan Umar meninggalkan dunia sebagai syahid di medan Badar dan mengharap pahala di sisi Allah.
Pada saat peristiwa Uhud, ketika langkah-langkah mereka gemetar, para Muslim lari dari Nabi mereka, dan hanya sedikit yang tetap bersama dengannya yaitu tidak kurang dari sepuluh. Saad bin Abi Waqas berdiri dengan busur melindungi Rasulullah Saw. Tidaklah dia melepaskan anak panah kecuali pasti mengenai musuh dan membunuh mereka.
Ketika Rasulullah melihat keahlian Saad dengan busur, Rasullah mendorongnya dengan penuh semangat, "Lepaskan Saad... ! Lepaskan, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu."
Sa'ad merasa bangga dengan perjalanan hidupnya ini, dia selalu mengatakan, "Tidaklah Rasulullah Saw mengumpulkan untuk seseorang kedua orang tuanya, kecuali hanya untukku... dan itu ketika dia mengucapkan kata-kata tebusannya dengan ayah dan ibunya secara bersamaan ."
Namun Sa'd mencapai puncak kemuliaannya ketika Umar Al-Faruq memutuskan untuk memimpin pasukan perang melawan Persia yaitu perang untuk menghinakan negerinya san menghancurkan kekuasaannya serta mencabutnya dari atas muka bumk hingga ke akar-akarnya.
Umar mengirim pesan ke pegawainya di seluruh negeri, meminta mereka untuk mengirim siapa pun yang memiliki senjata atau kuda, atau keahlian dalam seni militer, strategi, puisi, pidato, atau hal-hal lain yang berguna dalam pertempuran.
Akibatnya, pasukan mujahidin dari berbagai penjuru mulai membanjiri kota Madinah. Setelah mereka berkumpul, Umar Al-Faruq meminta saran dari (ahlul halli wal a'qd) para sahabat terpercaya dalam memilih pemimpin untuk pasukan besar ini. Mereka berkata dengan satu suara mengusulkan Sa'd bin Abi Waqqas sebagai pemimpin pasukan, akhirnya Umar menunjuknya sebagai panglima.
Ketika pasukan besar berniat untuk ke luar dari kota, Umar bin Khattab memberikan nasihat kepada Saad. Ia berkata, "Janganlah kamu terpedaya oleh statusmu sebagai kerabat Nabi dan sahabat Nabi. Sesungguhnya Allah tidak menghapus kesalahan dengan kesalahan, tetapi Dia menghapus kesalahan dengan kebaikan. Wahai Saad, di antara Allah dan manusia tidak ada hubungan kecuali ketaatan. Kemuliaan mereka di sisi Allah sama, Allah adalah Tuhan mereka dan mereka adalah hambaNya yang dibedakan berdasakan takwa, mereka memahami keberadaannya di sisi Allah hanya dengan ketaatan. Maka perhatikanlah perilaku Nabi dan ikutilah, karena itu adalah perintah.
Kemudian pasukan yang terberkahi itu berangkat, terdiri dari sembilan puluh sembilan orang dari para pejuang Badr, dan lebih dari tiga ratus orang yang pernah bersama-sama di Bai'at Ar-Ridwan. Selain itu, ada tiga ratus orang yang pernah ikut dalam penaklukan Mekah bersama Rasulullah, dan tujuh ratus orang dari anak-anak sahabat.
Saad dan pasukannya pergi ke Qadisiyah, dan pada hari Harir yaitu terakhir di perang Qadisiyah, umat Islam memutuskan untuk membuatnya menjadi kota yang hancur. Mereka mengelilingi musuh mereka dengan kuat dan menyerang mereka dari segala arah dengan semangat yang tinggi sambil berteriak laa ilaha illa allah dan bertakbir.
Ketika kepala Rustum, pemimpin pasukan Persia, diangkat di atas tombak Muslim, rasa takut dan panik memenuhi hati musuh Allah, sehingga seorang Muslim menunjuk ke arah seorang Farsi dan membunuhnya dengan senjatanya.
Beberapa ghanimah diambil tanpa masalah, adapun para korban yang cukup engkau tahu bahwa korbannya yang tenggelam saja mencapai jumlah tiga puluh ribu orang.
Sa'ad hidup lama dan diberi banyak harta oleh Allah, tetapi ketika dia meninggal, dia meminta untuk dibungkus dengan jubah dari wol usang. Dia berkata, "Kafani aku dengan jubah itu, karena dengannya saya telah menghadapi orang-orang musyrik pada hari Badar... Dan aku ingin bertemu dengan Allah Azza wa Jalla dengan jubah tersebut".
Wa Allahu A'lamu bi Shawab
Oleh: Umm_Chaera
Sumber
Shuwar min Hayatis Shahabah
Baca juga kisah sahabat Rasulullah
Baca juga pengetahuan Tsaqofah Islam lainnya
Pengetahuan Bangsa Arab Jahiliyah
Awal Mula Masuknya Berhala ke Makkah
Kewajiban atas Rasulullah yang Tidak dibebankan Umatnya
Inspirasi kata Mutiara


