Kisah Sahabat Rasul: Sa'ad bin Abi Waqash (1)

Saad bin Abi Waqash (1)

nullSang Pemanah Ulung "Sa'ad bin Abi Waqash (1)"

"Lempar Sa'ad... demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu.

(Muhammad rasul Allah yang mendorong Sa'ad pada hari Uhud).


{ وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنࣲ وَفِصَـٰلُهُۥ فِی عَامَیۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِی وَلِوَ ٰ⁠لِدَیۡكَ إِلَیَّ ٱلۡمَصِیرُ (14) وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰۤ أَن تُشۡرِكَ بِی مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِی ٱلدُّنۡیَا مَعۡرُوفࣰاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِیلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَیَّۚ ثُمَّ إِلَیَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (15) }


Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempuyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.Luqman: 14-15)


Ayat-ayat yang mulia ini mengisahkan sebuah kisah yang jarang terjadi dan luar biasa, dimana serangkaian emosi perasaan bertarung dalam diri pemuda yang berhati lembut. Kemenangan selalu berada di pihak kebaikan atas kejahatan, dan iman selalu mengalahkan kekafiran.


Pahlawan dalam kisah ini adalah seorang pemuda dari keluarga terhormat di Mekkah, yang berasal dari keturunan ayah dan ibu yang mulia. Pemuda itu adalah Sa'du bin Abi Waqqas, semoga Allah meridainya dan ia ridha terhadap-Nya."


Ketika cahaya kenabian itu muncul di Mekkah, Saad sangat muda dan masih anak-anak yang memiliki kelembutan, ia sangat patuh dan mencintai kedua orang tuanya terutama kepada ibunya.


Meskipun Sa'ad saat itu baru memasuki usia 17 tahun, dia memiliki banyak pengalaman dari orang tua dan kebijaksanaan para Syaikh. Dia tidak tertarik dengan warna-warni keindahan dunia, akan tetapi lebih memperhatikan kepada kecintaannya dalam panahan, dan memperbaiki busur panah serta mempraktikkannya, seakan-akan dia sedang mempersiapkan dirinya untuk hal yang besar.


Dia juga tidak merasa tenang dengan kondisi buruk yang dialami oleh kaumnya baik dalam hal akidah maupun dalam keburukan kondisi yang lain. Sampai dia seperti menunggu seseorang yang kuat dan tegas untuk membebaskan mereka agar keluar dari kegelapan yang mereka alami.


Begitulah kehendak Allah yang Maha Mulia dan Agung untuk memuliakan seluruh umat manusia melalui tangan yang terampil dan berkah ini.


Inilah tangan junjungan kita, Nabi Muhammad bin Abdullah Saw. Di dalam genggamannya terdapat bintang ilahiyah yang tak ternilai harganya yaitu Al-Quranul Karim.


Betapa cepatnya Sa'd bin Abi Waqqash memenuhi panggilan petunjuk dan kebenaran, sehingga dia menjadi salah satu dari tiga orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan laki-laki atau bahkan yang keempat dari empat orang.


Oleh karena itu, sering kali dia menyatakan dengan bangga, "Saya hanya butuh tujuh hari untuk memeluk Islam dan saya adalah sepertiga dari agama ini."


Kegembiraan Rasulullah SAW sangat besar atas masuknya Saad ke dalam Islam. Karena dalam diri Saad terdapat keutamaan yang luar biasa, dan orang yang pertama kali diberikan kabar gembira bahwa bulan sabit akan menjadi purnama dalam waktu dekat.


Sa'ad berasal dari keluarga yang terhormat, keturunan yang mulia, yang membuat pemuda Mekkah menginginkan posisinya yang diterimanya sejak lahir.


Terlebih lagi, Saad adalah saudara sepupu Nabi SAW, berasal dari keluarga Bani Zuhrah dan Bani Zuhrah adalah keluarga dari Aminah binti Wahb, ibunda Nabi SAW. Rasulullah SAW bangga dengan hubungan persaudaraan ini.


Diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, ketika melihat Saad bin Abi Waqqas datang mendekat, beliau berkata kepada orang-orang di sekitarnya: "Ini adalah paman saya, biarkan dia datang dan menunjukkan dirinya kepada saya."


Akan tetapi masuknya Sa'd bin Abi Waqqas ke dalam Islam tidaklah mudah, sebaliknya, sang pemuda mukmin tersebut dihadapkan pada ujian yang sangat berat dan keras. Sampai Allah SWT menurunkan ayat dalam Al-Quran tentang kesulitan ujian yang dihadapinya.


Mari kita biarkan Sa'd bercerita kepada kita tentang kisah pengalamannya yang luar biasa ini.


Sa'd berkata, "Aku melihat dalam mimpi sebelum aku masuk Islam selama tiga malam, aku seperti tenggelam dalam kegelapan, dan aku berusaha menggapai-gapai di kedalamnya, tiba-tiba bulan bersinar menerangiku. Aku pun mengikutinya dan melihat ada orang yang telah mendahuluiku sampai di bulan tersebut. Aku melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saya bertanya kepada mereka, "Sudah berapa lama kalian di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam".


Kemudian ketika siang menjelang, aku mendengar bahwa Rasulullah ﷺ menyeru untuk masuk Islam secara diam-diam. maka aku pun tahu bahwa Allah SWT menghendaki kebaikan kepadaku dan ingin mengeluarkanku dari kegelapan menuju cahaya."


Aku pun bergegas menuju ke tempatnya sampai bertemu dengannya di bukit Jiyad yang ada di Mekkah, saat itu beliau telah menunaikan salat Asar. Lalu aku memeluk Islam dan tidak ada yang mendahuluiku selain beberapa orang yang aku lihat dalam mimpi.


Kemudian Saad melanjutkan cerita tentang peristiwa masuk Islamnya, dia berkata: "Ketika ibuku mendengar kabar masuk Islamku, dia sangat marah dan kecewa. Aku adalah seorang anak yang patuh dan sayang kepadanya.


Dia datang kepadaku dan berkata, "Wahai Sa'ad, agama baru apa yang kamu anut sehingga kamu meninggalkan agama ayah dan ibumu? Demi Allah, kamu harus meninggalkan agama barumu atau aku tidak akan makan atau minum hingga aku mati...". "Hatimu pasti akan sedih dan menyesal atas tindakanmu, dan orang-orang akan mengejekmu selama-lamanya karena hal itu ."


Aku pun menjawab, "Jangan lakukan itu, wahai ibuku. Aku tidak akan meninggalkan agamaku karena apapun."


Namun, dia tetap berpegang teguh pada janjinya, dan menahan diri dari makan dan minum selama beberapa hari. Tubuhnya gemetar, tulangnya lemah, dan kekuatannya merosot.


Aku pun mendatanginya setiap saat dan meminta agar dia makan atau minum sedikit, tetapi dia menolak dengan keras dan bersumpah bahwa dia tidak akan makan atau minum sampai dia mati atau aku meninggalkan agamaku.


Pada saat itu, saya berkata kepadanya, "wahai Ibuku, aku sangat mencintaimu akan tetapi aku lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, jika engkau memiliki seribu nyawa pun dan setiap nyawa keluar darimu, aku tidak akan meninggalkan agamaku karenamu."


Setelah melihat keteguhan saya, akhirnya dia menyerah dan mau makan serta minum meskipun enggan.


Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

{ وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰۤ أَن تُشۡرِكَ بِی مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِی ٱلدُّنۡیَا مَعۡرُوفࣰاۖ}


"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempuyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS Luqman: 15)


Bersambung...


Wa Allahu 'alamu bi shawab


Oleh: Umm_Chaera



Sumber

Shuwar Min Hayatis Shahabah




Baca juga kisah sahabat Rasulullah

Abdullah bin Masud (1)

Abdullah bin Masud (2)

Salman al Farisi

Abdullah bin Abbas (1)

Abdullah bin Abbas (2)

Abdullah bin Abbas (3)

Abdurrahman bin Auf (1)

Abdurrahman bin Auf (2)


Saad bin Abi waqash (1)


Saad bin Abi Waqash (2)


Abu Hurairah ad Dawsy (1)


Abu Hurairah ad Dawsy (2)


Inspirasi kata Mutiara

KamutQ

LihatTutupKomentar