Pejabat dan Periwayat Hadist Abu Hurairah Ad Dawsy (2)
Abu Hurairah pernah menderita karena kesibukannya terhadap ilmu dan pernah absen dari majlis Rasulullah saw, ia mengalami kelaparan dan kesulitan hidup yang tidak pernah dirasakan oleh siapa pun."
Dia (Abu Hurairah) meriwayatkan dari dirinya sendiri, dia berkata: "Sungguh, rasa lapar yang sangat menyiksaku sampai-sampai aku bertanya kepada seorang sahabat Rasulullah saw tentang ayat Al-Quran - padahal aku sendiri tahu - agar dia mengajakku ke rumahnya dan memberi makan...
Pernah suatu hari rasa lapar sangat menyiksaku hingga perutku aku ganjal dengan batu, lalu aku duduk di tengah jalan para sahabat. Kemudian Abu Bakar lewat dan saya bertanya kepadanya tentang ayat dalam Al Qur'an, tidaklah aku bertanya kepadanya kecuali dia mengajakku ke rumahnya. Tapi dia tidak mengajakku"
Kemudian Umar bin Khattab melewatiku dan aku bertanya padanya tentang sebuah ayat, tetapi dia tidak mengajakku juga. Sampai Rasulullah melewatiku dan mengetahui rasa lapar yang saya alami.
kemudian Rasulullah bertanya, "Abu Hurairah?!" Saya menjawab, "Labbaik ya Rasulullah, ya wahai Rasulullah," lalu aku mengikutinya.
Lalu aku masuk bersamanya ke rumah dan menemukan sebuah mangkuk yang berisi susu, Rasulullah pun bertanya kepada keluarganya, "Dari mana kamu mendapatkan ini?!"
Mereka menjawab, "Dikirimkan oleh si fulan untukmu." Kemudian beliau berkata, "Wahai Abu Hurairah, pergilah ke Ahli Shuffah (dia adalah tamu Allah dari kalangan orang miskin yang tidak memiliki keluarga dan keturunan serta harta, mereka tinggal di teras masjid) dan undang mereka."
Saya merasa kesulitan untuk mengundang mereka, dan dalam hatiku bertanya-tanya mengapa susu ini harus dibawa bersama Ahli Shuffah. Aku berharap bisa mendapatkan seteguk susu untuk memperkuat diriku sebelum mengundang mereka.
Kemudian saya datang kepada Ahli Shuffah dan mengundang mereka, dan mereka datang. Ketika mereka duduk di dekat Rasulullah, beliau berkata, "Ambil, wahai Abu Hurairah, dan berikan kepada mereka." Saya mulai memberikan susu kepada setiap orang hingga mereka semua merasa kenyang.
Kemudian saya memberikan mangkuk susu kepada Rasulullah, dan beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan berkata, "Hanya kita berdua yang tersisa sekarang". Aku menjawab, "Benar, wahai Rasulullah".
lalu beliau berkata, "Minumlah," dan aku minum. Kemudian beliau berkata, "Minumlah lagi," dan aku pun minum lagi... dan beliau terus mengatakan, "Minumlah," dan saya terus minum hingga saya berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak bisa meminumnya lagi.' Kemudian, beliau mengambil cangkir itu dan minum dari sisa airnya."
Tidak lama setelah itu, keberkahan melimpah kepada umat Muslim, harta rampasan perang dari penaklukan mengalir pada mereka. Abu Hurairah pun memiliki harta, rumah, harta benda, istri, dan anak-anak.
Namun, semua itu tidak mengubah sifatnya yang mulia dan tidak membuatnya melupakan masa-masa sulitnya. Seringkali ia mengatakan, "aku tumbuh besar sebagai seorang yatim, hijrah sebagai orang miskin, dan dulu saya adalah pelayan bagi Busrah binti Ghazwan, yang dibayar dengan sedikit makanan. Aku pun melayani suatu kaum ketika mereka datang, dan membantu mereka mengendarai untanya ketika mereka naik. Kemudian Allah menikahkan saya dengan putri Ghazwan.
Maka segala puji bagi Allah yang menjadikan agama sebagai aturan dan tiang penopang serta menjadikan Abu Hurairah sebagai seorang imam di Madinah.
Abu Hurairah telah diangkat menjadi penguasa di Madinah oleh Muawiyah bin Abu Sufyan lebih dari satu kali, tetapi pemerintahannya tidak mengubah sifat dan kelembutan hatinya sedikitpun...
Pernah ada seseorang yang melewati salah satu jalan di Madinah -(saat itu dia adalah walinya- dia membawa kayu bakar di atas punggungnya untuk keluarganya lalu dia bertemu dengan Tha'labah bin Malik...
Kemudian Tsa'labah berkata kepadanya:
Luaskanlah jalan untuk Amir, wahai ibnu Malik...
Lalu orang tersebut menjawab:
Semoga Allah menyayangimu, tidak cukupkah ruang yang ada?...
Kemudian Tha'labah berkata:
Luaskanlah jalan untuk Amir dan untuk tumpukan beban yang ada di atas punggungnya.
Telah terkumpul dalam diri Abu Hurairah, kekayaan ilmu, keluasan hati, ketakwaan dan kewara'annya. Dia suka berpuasa di siang hari dan melakukan shalat tahajud pada sepertiga malam. Kemudian dia akan membangunkan istrinya untuk melakukan shalat pada sepertiga malam yang kedua, dan membangunkan anaknya untuk sholat malam di sepertiga terakhir. Ibadah tidak pernah berhenti di rumah mereka sepanjang malam.
Abu Hurairah memiliki seorang budak perempuan yang berasal dari Zinjiyah (Sudan). Dia melakukan kesalahan dan membuat keluarganya sedih. Abu Hurairah mengambil cambuk untuk memukulnya, tetapi kemudian berhenti dan berkata, "Jika tidak ada qishosh di hari kiamat, saya akan memukulmu seperti kamu telah menyakiti kami. Namun, saya akan menjualmu kepada seseorang yang akan membayar harga yang tepat dan saya sangat membutuhkannya... Pergilah, kamu sekarang menjadi bebas untuk Allah yang Maha Kuasa."
Pernah putrinya mengatakan kepadanya, "Wahai ayahku, para gadis mengolok-olokku dengan mengatakan, "Mengapa ayahmu tidak menghiasimu dengan emas?".
Maka ayahnya menjawab, 'Wahai putriku, katakan pada mereka "bahwa ayaku takut aku terbakar api neraka".
Tidaklah ayahnya, Abu Hurairah, menolak untuk menghias putrinya dengan uang karena keserakahan atau keinginan untuk memilikinya, karena ia adalah orang yang dermawan dan murah hati di jalan Allah.
Marwan bin Hakam mengirim seratus dinar emas kepadanya, dan keesokan harinya ia mengirim pesan kepadanya mengatakan, "pembantuku melakukan kesalahan memberikanmu dinar, padahal aku tidak bermaksud demikian, tetapi aku bermaksud memberikan kepada orang lain. Tapi Dinar itu malah diberikan ke tangan Abu Hurairah.
Abu Hurairah menanggapi, "Saya telah mengeluarkan uang itu di jalan Allah dan tidak ada satu dinar pun yang tinggal bersamaku. Jika pemberianku kembali padamu, ambillah dari hakku di baitul mal itu sebagai penggantinya.
Dan sesungguhnya Marwan hanya melakukan itu untuk menguji kebenarannya, dan ketika ia menyelidiki hal itu, ia menemukannya kebenarannya.
"Abu Hurairah, selama sisa hidupnya, selalu berbakti kepada ibunya. Setiap kali ia ingin keluar dari rumah, ia berhenti di pintu kamar ibunya dan berkata, 'Salam sejahtera bagimu, ibuku, semoga Allah memberikan rahmat dan berkah-Nya padamu".
Ibunya menjawab, 'Salam sejahtera bagimu juga, anakku, semoga Allah memberikan rahmat dan berkah-Nya padamu". Kemudian Abu Hurairah berkata, "Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau merawatku ketika aku masih kecil".
Ibunya menjawab, "Semoga Allah merahmatimu juga sebagaimana engkau memperlakukanku dengan baik ketika kamu sudah dewasa". Setelah itu, ketika Abu Hurairah kembali ke rumahnya, ia melakukan hal yang sama.
Abu Hurairah selalu sangat peduli untuk mengajak orang-orang kepada kebajikan, termasuk hubungan baik dengan keluarga dan kerabat.
Pada suatu hari, ia melihat dua orang laki-laki berjalan bersama, dan salah satunya lebih tua dari yang lain. Abu Hurairah bertanya kepada yang lebih muda, "Siapa laki-laki itu bagimu?' Yang lebih muda menjawab, 'Itu ayahku".
Abu Hurairah berkata, "Jangan panggil dia dengan namanya, jangan berjalan di depannya, dan jangan duduk sebelum dia duduk".
Ketika Abu Hurairah sakit parah dan berada di mendekati kematian, ia menangis. Ketika ditanya, "apa yang menyebabkanmu menangis?", Abu Hurairah menjawab, "Aku tidak menangis karena dunia ini, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan bekal yang sedikit". "Aku telah berdiri di ujung jalan yang akan membawaku ke Surga atau Neraka, dan aku tidak tahu di mana aku akan beada...!!
Kemudian, Marwan bin Al-Hakam datang untuk menengoknya dan berkata "Semoga Allah menyembuhkanmu, wahai Abu Hurairah".
Lalu Abu Hurairah berdoa "Ya Allah sesungguhnya aku mencintai pertemuan dengan-Mu maka cintailah pertemuanku, segerakanlah pertemuan itu...". Hampir saja Marwan meninggalkan kamar sakitnya, Abu Hurairah meninggal dunia.
Semoga Allah merahmati Abu Hurairah dengan rahmat yang luas, karena telah menghafal lebih dari 1609 hadis Rasulullah SAW dan memeliharanya untuk umat Islam. Semoga Allah memberinya balasan yang baik atas Islam dan kaum Muslimin.
Wa Allahu a'lamu bi Shawab
Oleh: Umm_Chaera
Sumber:
Shuwar min Hayatis Shahabah
Baca juga kisah sahabat
Baca juga pengetahuan Tsaqofah Islam lainnya
Pengetahuan Bangsa Arab Jahiliyah
Awal Mula Masuknya Berhala ke Makkah
Kewajiban atas Rasulullah yang Tidak dibebankan Umatnya
Inspirasi kata Mutiara
.png)
.png)