Pengetahuan Bangsa Arab Jahiliyah
Para sejarawan sepakat bahwa sebelum kedatangan Nabi, orang Arab dikenal sebagai orang yang buta huruf. Hal ini tercatat dalam Al-Quran Surat Al-Jum'ah ayat 2:
{ هُوَ ٱلَّذِی بَعَثَ فِی ٱلۡأُمِّیِّـۧنَ رَسُولࣰا مِّنۡهُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ }
" Dia-lah yang mengutus seorang rasul di antara orang-orang yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (sunnah) meskipun mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata."
[Surat Al-Jumu'ah: 2]
Jika kita menghitung orang yang bisa membaca dan menulis di Mekah sebelum Nabi Muhammad datang, kita akan menemukan bahwa jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari.
Ilmu pengetahuan tanpa kemampuan membaca dan menulis tidak mungkin berkembang. Mungkin upaya pertama yang serius dalam memerangi buta huruf dilakukan ketika beberapa tawanan Perang Badar mengajarkan membaca dan menulis kepada orang Muslim.
Kami tidak menyangkal bahwa orang Arab memiliki pengetahuan tentang bintang-bintang dan kedokteran. Namun pengetahuan mereka tentang bintang-bintang hanya sebatas kebutuhan mereka dalam menentukan arah di padang pasir yang tidak memiliki petunjuk jalan.
Hal ini juga dicatat dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 14-16:
" Dan Dia-lah yang menundukkan laut untukmu, supaya kamu dapat memakan daging yang segar daripadanya.... dan dengan bintang-bintang mereka menentukan arah."
Dan juga dalam Surat Al-An'am ayat 97: " Dan Dialah yang menjadikan bagi kamu bintang-bintang, supaya kamu dapat menemukan jalanmu dalam gelap gulita di daratan maupun di lautan."
Jika mereka memiliki pengetahuan lebih banyak tentang bintang-bintang, Allah pasti akan menyebutkannya dalam Al-Quran.
Sedangkan pengetahuan mereka tentang kedokteran hanya sebatas ramuan-ramuan tradisional yang didasarkan pada pengalaman, bukan ilmu pengetahuan yang berbasis penelitian.
Kita dapat membatasi ilmu-ilmu orang Arab pada dua ilmu pokok yaitu: sejarah dan bahasa.
Dalam sejarah, kita ingin mengetahui tentang hari-hari orang Arab dan keturunan mereka, dan mungkin itu merupakan salah satu kebutuhan kehidupan suku, di mana anggota suku bercerita tentang hari-hari orang Arab dan menyebutkan keturunan mereka untuk membanggakan diri.
Sedangkan bahasa, diketahui bahwa bahasa Arab pada zaman Rasulullah dibagi menjadi dialek-dialek, dan peneliti membedakan dua dialek utama:
Pertama: dialek Hijaz, yaitu dialek penduduk perkotaan, dan dialek ini ditandai dengan mudahnya dan lunaknya pelafalan, sehingga mereka lebih suka memecah kata di awal daripada menggabungkannya contoh (إسوة و عِدوَة) "iswah dan idwah" mengganti (أُسوة و عُدوَة) "aswah dan 'udwah", juga mereka lebih suka melunakkan bunyi hamzah dalam pengucapan seperti (يُوْمِن و آنتُم) "yuminu dan antum" mengganti kata (يؤمن و أَأَنتم) "yu'min dan a'antum".
Kedua: dialek Najd, yaitu dialek suku Badui, dan dialek ini ditandai dengan keanggunan penampilan dan lebih memilih mengucapan dhammah daripada kasroh seperti dalam kata (أُسوة و عُدوَة) "udwah dan uswah". Mereka juga lebih memilih menekankan nada hamzah daripada melunakkannya.
Dan di antara dialek-dialek Arab ada yang disebut fushah (fasih): yaitu setiap dialek yang tidak mengganti huruf asli dalam kata dengan huruf lain, dan mengeluarkan huruf-huruf dari tempat asalnya.
Dan ada yang tidak fushah: yaitu setiap dialek yang mengeluarkan sebagian huruf Arab tidak dari makhrojnya, atau mengubah huruf Arab menjadi huruf Arab lain, seperti mengubah huruf kaf menjadi syin seperti pada kabilah Tamim, Bakr, Asad, dan Rabi'ah, sehingga mereka mengatakan ( عيناش عينها) "ainash ainaha" bukan (عيناك عينها) "ainak ainaha". Seorang penyair mereka telah mengatakan:
فعيناش عيناها وجيدش جيدها ولكن عظم الساق منش دقيق
"matamu adalah matanya, kebaikanmu adalah kebaikannya, tetapi tulang kakimu rapuh."
Dan seperti mengubah huruf ain yg sukun menjadi huruf nun di antara suku-suku Sa'd bin Bakr, Hudzail, dan Azd. Seorang penyair al-A'sya Qais al Qahthany telah mengatakan:
جيادك خير جياد الملوك تصان الجلال وتنطي الشعيراً
"Kuda-kudamu adalah kuda terbaik bagi para raja, menjaga kehormatan mereka dan memberikan makanan pada saat yang tepat"
Bagaimanapun juga, dalam berbagai dialek, para penyair terus menulis puisi mereka untuk merekam kebanggaan mereka, apa yang terjadi pada suku mereka baik dalam kebaikan maupun kesulitan, serta apa yang terjadi pada orang Arab dalam kesulitan dan kemudahan.
Puisi Arab merekam sejarah orang Arab dan kehidupan mereka. Mereka melakukan perjalanan ke pasar-pasar Arab seperti 'Ukaz, Dhul-Majaz, Dumat Al-Jandal, dan tempat lainnya untuk membacakan puisi mereka dan mendengarkan syair para penyair terbaik.
Ketika sebuah puisi dipandang baik oleh para kritikus, mereka akan menggantungkannya di dinding Ka'bah sebagai pengakuan atas kehebatan penyairnya.
Setiap satu bait puisi memiliki pengaruh yang berbeda pada orang-orang, beberapa orang terangkat dan beberapa orang merasa rendah. Bahkan sekarang, para perawi masih mengingatkan tentang sekelompok orang Tamim yang merujuk pada kakek mereka "Anf Al-Naqah" dan merasa malu atas nama tersebut.
Ketika salah satu dari mereka ditanya tentang silsilahnya, dia berkata: "Saya berasal dari Bani Qurai' bin 'Auf, ayah dari Ja'far Anf Al-Naqah. Kemudian, orang Huthaifah mengunjungi mereka dan mereka menghormatinya. Dia berkata tentang mereka:
قوم هم الأنف والأذناب غيرهم # ومن يُسوّي بأنف الناقة الذنبا
"Mereka adalah orang yang mempunyai hidung dan buntut, dan tidak ada yang bisa dibandingkan dengan hidung unta yang berbuntut."
Kemudian mereka merasa bangga dengan nama-nama ini. Para perawi masih terus mengingat keturunan Bani Abdul Madan yang dikenal dengan tubuh yang tinggi dan besar, dan mereka bangga dengan ini. Bahkan Hasan bin Thabit menyerang mereka dengan berkata:
لا بأس بالقوم من طول، ومن غِلَظ # جسمُ البغال وأحلام العصافير
"Tidak masalah bagi orang-orang yang tinggi dan besarnya badan bighal dan mimpi burung-burung"
Sehingga mereka merasa malu tentang hal itu.
Wa Allahu a'lamu bi shawab.
Oleh: Umm_Chaera
Sumber:
Dirosah tahliliyah li syakhshiyatir rasuli Muhammad Saw.
Baca juga tsaqafah lainnya
Pengetahuan Bangsa Arab Jahiliyah
Awal Mula Masuknya Berhala ke Makkah
Kewajiban atas Rasulullah yang Tidak dibebankan Umatnya


