Kisah Sahabat: Hudzaifah Sang Penjaga Rahasia

 

Hudzaifah Sang Penjaga Rahasia

مَا حَدَّثَكُمْ حُذَيْفَةُ فَصَدِّقُوهُ ، وَمَا أَقْرَأَكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ فَاقْرَؤُوهُ ، (حَدِيث شَرِيفٌ )

"Apa yang dikatakan Hudzaifah kepadamu maka percayalah, dan apa yang dibacakan Abdullah bin Mas'ud kepadamu maka ikutilah bacaannya".

(Al Hadis)

"Jika kamu ingin menjadi seorang Muhajirin, atau kamu ingin menjadi seorang Anshar, silakan kamu memilih dari keduanya mana yang kamu sukai untukmu sendiri"

Kalimat ini Rasulullah Saw sampaikan kepada Hudzaifah bin Al Yamani ketika bertemu dengannya pertama kali di Makkah.

Pilihan Hudzaifah bin Al Yamani dalam memilih dua golongan mulia yang dia sukai dari kaum Muslimin memiliki kisah tersendiri.

Silsilah keluarga Hudzaifah

Al Yaman ayah Hudzaifah adalah seorang asli Makkah dari Bani 'Abs, akan tetapi di tempat tinggal kaumnya telah terjadi pertumpahan darah, maka dengan terpaksa dia meninggalkan Makkah menuju Yastrib dan dia melakukan kerja sama dan bergabung dengan Bani Abdul Asyhal yang kemudian lahirlah anaknya Hdzaifah.

Kemudian setelah hilang penghalang yang menghalanginya antara Makkah dan Madinah, dia suka bolak balik antara Makkah dan Yastrib, akan tetapi dia lebih banyak tinggal di Madinah dan lebih terikat dengannya.

Ketika cahaya Islam muncul di Jazirah Arab, Al Yaman ayah Hudzaifah adalah sebelas orang dari bani 'Abs yang menjadi utusan kepada Rasullah Saw. Dan menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah, dan itu terjadi sebelum hijrah ke Madinah. Sehingga dari sini disimpulkan bahwa Hudzaifah itu adalah seorang asli Makkah tetapi tumbuh besar di Madinah.

Kerinduan Hudzaifah Terhadap Rasulullah

Hudzaifah bin Al Yamani tumbuh di keluarga Muslim dan dididik dalam pengasuhan kedua orang tua yang pertama masuk dalam agama Allah. Dia masuk Islam sebelum matanya belum melihat Rasulullah Saw.

Kerinduan Hudzaifah untuk bertemu Rasulullah Saw. telah memenuhi hatinya dan sejak masuk Islam dia terus mengikuti kabarnya, dan terus bertanya tentang sifat-sifatnya, sehingga dia bertambah cinta dan rindu kepadanya.

Kemudian dia pergi menuju Makkah untuk bertemu Rasullah, dan saat bertemu dengannya dia bertanya kepadanya:

"Apakah aku seorang Muhajirin ataukah seorang Anshar, wahai Rasulullah".

Rasulullah Saw. Menjawab: "Jika kamu suka ingin menjadi seorang Muhajirin, atau kamu juga suka ingin menjadi seorang Anshar, silakan kamu memilih dari keduanya mana yang kamu sukai untukmu sendiri"

Hudzaifah pun menjawab: "Aku memilih menjadi seorang Anshar, wahai Rasulullah".

Kebersamaan Hudzaifah kepada Rasulullah

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, Hudzaifah bermulazamah kepada Rasulullah sebagaimana kedua mata yang saling mengiringi. Dia juga selalu ikut berjihad bersama Rasulullah di semua peperangan kecuali perang Badr.

Ketidakhadiran Hudzaifah pada perang Badr memiliki kisah tersendiri yang akan dikisahkan olehnya sendiri.

Sebenarnya, tidak ada yang menghalangiku untuk ikut perag Badr, kecuali saat itu aku berada di luar Madinah bersama ayahku, orang kafir Quraisy menangkapku dan mereka mengatakan: "Kalian mau kemana?".

Kami menjawab: "Madinah".

Kemudian mereka bertanya kembali: "Apakah kalian ingin bertemu Muhammad?".

Dan dijawab: "Tidak ada yang kami inginkan kecuali Madinah".

Namun mereka mengabaikan kami dan tidak pula membebaskan kami kecuali setelah mereka mengadakan perjanjian dengan kami agar kami tidak boleh menolong Muhammad untuk melawan mereka, dan agar kami tidak berperang bersama Muhammad, barulah setelah itu mereka membebaskan ikatan kami.

Dan ketika kami menemui Rasulullah Saw. Kami mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah terjadi kepada kami dan tentang perjanjian kami dengan Quraisy, aku bertanya kepadanya "apa yang kharus kami lakukan?".

Rasulullah Saw. Menjawab: "lepaskanlah perjanjian dengan mereka dan memohonlah pertolangan kepada Allah atas keburukan mereka".

Kesayahidan Al Yamani

Ketika terjadi perang Uhud, Hudzaifah dan ayahnya ikut terjun berperang di dalamnya, Hudzaifah mendapatkan ujian yang berat dan mendapatkan kemuliaan. Dia keluar dari medan pertempuran dengan selamat. Sedangkan ayahnya telah syahid dipertempuran itu, akan tetapi dia syahid di pedang kaum Muslimin bukan di pedang orang Musyrik.

Maka kami sajikan kisahnya berikut ini.

Saat terjadi perang Uhud Rasulullah menempatkan Al Yaman dan Tsabit bin Waqsy di benteng bersama para wanita dan anak-anak, karena keduanya merupakan orang yang sudah lanjut usia.

Ketika perang sedang berkecamuk, Al Yaman berkata kepada sahabtnya:

"Apakah kamu tidak mengapa dengan keadaanmu, apa yang sedang kita tunggu?".

"Demi Allah tidak ada yang tersisa dari usia kita kecuali hanyalah sesaat keledai yang merasa hauskan".

"Sesungguhnya kita telah bertekad untuk hari ini atau besok, tidakkah kita mengambil pedang kita lalu kita bergabung dengan Rasulullah Saw semoga Allah memberikan rizki syahid kepada kita yang bersama nabinya".

Kemudian mereka mengambil pedangnya dan masuk kedalam medan pertempuran. Akhirnya sabit bin Waqsy mendapatkan kemuliaan syahid di tangan kaum Musyrik sedangkan Al Yaman ayahnya Hudzaifah berbeda dengannya dia syahid di tangan kaum muslimin yang tidak mengenalnya, dan membuat Hudzaifah berteriak mengatakan:

"Abi.... abi...."

Akan tetapi tidak ada satu pun yang mendengar, yang akhirnya orang tua itu pun terbunuh di pedang sahabatnya, dan Hudzaifah mengatakan dengan menyesal:

"Semoga Allah mengampuni kalian, karena sesungguhnya dia Maha pengasih lagi Maha Penyayang".

Kemudian Rasulullah Saw.ingin memberikan kepada anaknya diyat untuk ayahnya, lalu Hudzaifah berkata:

"Sesungguhnya dia ingin mendapatkan syahid dan dia telah mendapatkannya".

"Ya Allah saksikanlah sesungguhnya aku menyedekahkan diyat ayahku untuk kaum Muslimin".

Maka bertambahlah posisinya di sisi Rasulullah Saw.

Keistmewaan Hudzaifah

Rasulullah Saw mendalami keahlian Hudzaifah sehingga muncullah tiga kelebihannya. Yaitu,

  1. Kecerdasan yang mampu digunakan untuk mengatasi dilema

  2. Cepat faham saat pertama kali disampaikan, patuh dan senantiasa menyambut setiap kali diperlukan.

  3. Mampu menjaga rahasia agar tidak bocor kepada siapa pun.

Strategi Rasulullah Saw dalam memunculkan kelebihan dan bakat yang melekat pada para sahabatnya adalah dengan meletakkan seseorang sesuai dengan posisinya yang sesuai.

Masalah besar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah adalah keberadaan orang-orang munafik dari kalangan Yahudi dan golongannya yang merancang konspirasi dan memata-matai Nabi Saw.

Nabi Saw. Menceritakan secara rahasia kepada Hudzaifah nama-nama orang munafik -dan itu merupakan rahasia yang tidak ada satu orang sahabat pun mengetahuinya- dan Rasulullah memerintahkannya untuk mengawasi gerakan mereka, mengikuti aktivitasnya dan mencegah bahaya yang akan ditimbulkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Sejak saat itu Hudzaifah bin Al Yamani di panggil dengan sang Penjaga Rahasia Rasulullah Saw.

Kisah Rasulullah Memanfaatkan Bakatnya

Rasulullah memanfaatkan bakat dan kemampuan Hudzaifah di suatu kondisi yang merupakan kondisi yang paling berbahaya. Beliau membutuhkan keistimewaan kecerdasannya, kecepatan berfikirnya dan kepatuhannya saat berada di puncak perang Khandak.

Saat itu kaum Muslimin dikepung musuh dari berbagai arah dalam waktu yang lama, sehingga mereka mengalami ujian yang sulit dan sempit. Sehingga pandangan dan hati mereka merasa sempit dan gentar, membuat sebagian kaum Muslimin berprasangka kepada Allah dengan berbagai prasangka.

Padahal saat itu orang-orang Quraisy dan sekutunya dari oran-orang musyrik tidak kalah lebih baik keadaannya dari kaum Muslimin.

Allah SWT menurunkan murkanya dengan melemahkan kekuatannya, menggoyahkan tekadnya dan mengirimkan angin yang sangat kuat yang dapat merobohkan tenda-tenda mereka, membalikkan panci-panci mereka, memadamkan apinya, dan melemparkan debu-debu ke wajahnya sehingga mampu menghentikan air mata keluar dari matanya.

Pada situasi yang genting ini pada sejarah peperangan, pihak yang kalah akan merasa putus asa terlebih dulu. Sedangkan pihak yang menang adalah mereka yang konsisten dan disiplin meskipun menghadapi keadaan yang sulit.

Pada kesempatan inilah takdir pertempuran itu ditentukan, dimana keterampilan pasukan lebih penting dalam menghadapi medan pertempuran dan memberikan saran.

Sehingga Rasulullah Saw membutuhkan potensi dan keahlian Hudzaifah bin al Yamani, dan bermaksud mengutusnya masuk ke jantung pasukan musuh di gelepan malam.

Kita biarkan Hudzaifah sendiri yang menceritakannya kepada kita tentang kisah perjalan mautnya ini.

Hudzaifah mengatakan:

"Saat itu kami berada di malam yang tenang sedang duduk-duduk, sedangkan Abu Sufyan dan orang-orang musyrik Makkah bersamanya mengepung kami sedangkan yahudi bani Quraidhah yang berada di bawah perjanjian dengan kami mengkhianati kami dan kami merasa khawatir terhadap istri-istri dan keturunan kami".

"Ketika malam yang gelap menghampiri kami, angin bertiup kencang, Suara-suara angin laksana jeritan dan kegelapan malam menjadikan kami tak seorang pun mampu melihat jari-jarinya".

Orang-orang munafik meminta izin kepada Rasulullah Saw dan berkata:

"Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka untuk musuh (padahal sebenarnya tidak-red) dan tidak seorang pun yang meminta izin kecuali Rasulullah mengizinkannya. Mereka menyelinap keluar sampai kami tersisa sekitar 300 orang".

Saat itu Rasulullah bertindak memeriksa kami, dengan berjalan mendatangi kami satu per satu, sampai akhirnya Rasulullah mendatangiku dan saat itu aku sedang kedinginan yang tidak ada yang dapat melindungiku kecuali sehelai selimut pendek milik istriku yang hanya bisa menutupi sampai lututku.

Kemudian Rasulullah mendekatiku dan aku sedang berlutut di atas tanah saat itu, dan berkata: "Siapa ini?"

Aku pun menjawab:

"Hudzaifah"

Rasulullah kembali menegaskan:

"Hudzaifah?...."

Lalu aku tiba-tiba terjungkal ke tanah karena tidak kuat berdiri menahan dingin dan lapar.

Aku kembali menjawab:

"Ya, wahai Rasulullah"

Rasulullah menjelaskan agar dia berada di suatu kaum dengan cara menyelinap ke dalam pasukannya dan berkata:

"Datangilah aku dengan membawa kabar tentang mereka"

Aku pun keluar padahal aku adalah seorang penakut yang sedang kedinginan. Lalu Rasulullah berdoa:

اللَّهمَّ احفَظهُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ ، وَمِنْ خَلْفِهِ ، وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ، وَمِنْ فوْقهِ وَمِنْ تَحْتِهِ.

"Ya Allah jagalah dia, baik dari belakang, kanan, kiri, atas dan bawahnya".

Demi Allah, sebelum Rasulullah menyelesaikan doanya, Allah telah menghapus ketakutan yang bersarang di hatiku, dan menghilangkan kedinginan yang menyerang tubuhku.

Ketika aku hendak berangkat, Rasulullah SAW berkata:

"Wahai Hudzaifah! Janganlah kamu menceritakan apa pun kepada siapa pun sampai kamu mendatangiku"

Aku pun menjawab dan berkata:

"Ya, wahai Rasulullah".

Aku pun berangkat menyelinap di kegelapan malam sampai aku memasuki jantung pasukan musyrik dan aku seakan-akan termasuk bagian dari mereka.

Tidak lama setelah itu, Abu Sufyan berdiri dan menyampaikan di depan pasukannya dan berkata:

"Wahai orang-orang Quraisy, aku ingin mengatakan kepada kalian yang aku sendiri takut akan sampai kepada Muhammad, maka lihatlah teman duduk di antara kalian siapa mereka"

Saat tiba giliranku aku langsung mengangkat tangan seorang laki-laki yang ada di sampingku. Dan aku pun bertanya:

"Siapa kamu?"

Dan di jawab: "Fulan bin Fulan".

Abu Sufyan pun masih menyampaikan: "Wahai orang-orang Quraisy! Demi Allah kalian tidak berada di tempat yang tenang, pasukan kita sudah hancur, bani Quraidzah pun telah meninggalkan kita, dan kalian pun melihat kondisi angin yang begitu kencang, maka pulanglah karena aku sendiri pun akan pulang".

Kemudian Abu Sufyan berdiri menuju untanya dan melepaskan talinya lalu dia duduk di atasnya sambil memukulnya dan membawanya pergi.

Seandainya kalau bukan karena Rasulullah memerintahkan aku agar tidak menceritakan kepada siapa pun sampai aku mendatanginya maka aku akan membunuhnya dengan anak panah.

Setelah itu aku pulang dan menemui Rasulullah Saw, dan aku mendapatkan Rasulullah sedang melakukan sholat di atas selimut salah satu istrinya.

Ketika Rasulullah melihatku, beliau mendekatkanku kepada kedua kakinya dan menyingkirkan sedikit ujung selimutnya, lalu aku menceritakan kabar yang aku bawa. Rasulullah sangat merasa bahagia mendengarnya lalu beliau bersyukur kepada Allah dan memujinya.

Hudzaifah di Masa Kekhilafahan Sahabat

Sepanjang hidupnya Hudzaifah tetap menjaga rahasia-rahasia tentang orang-orang munafik. Ketika masa Kekhilafahan itu berganti sampai akhirnya datang masa Umar bin Khathab ra. setiap kali salah satu kaum muslim itu meninggal dia bertanya.

"Apakah Hudzaifah datang untuk menyolatinya"

Jika mereka menjawab, "ya". Maka beliau pun menyolatkannya. Jika mereka menjawab, "tidak". Maka dia akan meragukannya dan enggan untuk menyolatinya.

Suatu hari Hudzaifah pernah ditanya oleh Amirul mukminin: "Apakah ada diantara para pejabatku termasuk salah seorang yang munafik?".

Kemudian dijawab, "Ada satu".

Lalu Umar meminta, "tunjukkan kepadaku!".

Hudzaifah menjawab, "Tidak akan aku lakukan itu".

Akan tetapi Hudzaifah pernah mengatakan:

"Akan tetapi tidak berselang lama dari saat itu Umar memecatnya seakan-akan dia telah diberi pentunjuk akan hal itu".

Kontribusi Hudzaifah di Dunia Islam

Mungkin sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah pernah menaklukkan bersama pasukan kaum muslimin beberapa kota di persia seperti Nahawan, Dinawar, Hamadzan, dan Ar Roya.

Hudzaifah juga merupakan penyebab dalam menyatukan mushaf bagi kaum muslimin setelah mereka hampir berpecah belah karena masalah Al Quran ini.

Meskipun begitu, Hudzaifah tetaplah orang yang sangat takut kepada Allah, dan takut besar siksaNya.

Ketika dia merasakan beratnya rasa sakit yang mengantarkannya kepada kematian, para sahabatnya datang di tengah malam, dan dia bertanya.

"Jam berapa sekarang?".

Mereka menjawab, "Sebentar lagi kita masuk waktu Subuh".

Dia pun kembali berkata:

"Aku berlindung kepada Allah dari pagi yang membawaku ke neraka...., Aku berlindung kepada Allah dari pagi yang membawaku ke neraka....".

Kemudian dia bertanya lagi:

"Apa kalian membawa kain kafan?".

Mereka menjawab, "ya"

Hudzaifah menasehati:

"Jangan terlalu banyak menggunakan kain kafan, karena bisa saja Allah akan menggantikan diriku dengan orang yang lebih baik dariku, karena kain kafan itu diambil olehku".

Kemudian dia berdoa:

"Ya Allah sesungguhnya engkau mangetahui bahwa aku menyukai kefakiran dibandingkan kekayaan, aku menyukai kehinaan dibandingkan kemuliaan, dan aku menyukai kematian dibandingkan kehidupan".

Kemudian saat ruhnya menghilang, ada yang mengatakan:

"Sang kekasih yang datang karena kerinduan, tidak akan beruntung siapa saja yang menyesal...

Semoga Allah merahmati Hudzaifah bin al Yamani yang merupakan seorang yang unik.

Wa Allahu 'alamu bi Shawab

Oleh: Umm_Chaera

Sumber

Shuwar min Hayatis Shahabah


Baca juga kisah sahabat teladan yang lain

Usamah bin Zaid

Khalid bin walid [1]


Khalid bin Walid [2]


Utsman bin Affan [1]


Utsman bin Affan [2]


Zaid bin Haritsah [1]


Zaid bin Haritsah [2]

Ja'far bin Abi Thalib [1]

Jafar bin Abi Thalib [2]

Abu Sufyan bin Harits

Abu Sufyan bin Harits [2]

Suhaib bin Sinan Ar Rumy

Khabab Bin Al Aarat

Amru bin Ash

Hudzaifah Sang Penjaga Rahasia


LihatTutupKomentar